Kampar (SegmenNews.com) Salah satu tempat menarik untuk dikunjungi di Provinsi Riau adalah objek wisata Tujuh Danau di kawasan hutan lindung Buluh Cina, Kabupaten Kampar.

Konon, di sekitar Tujuh Danau tumbuh banyak tanaman langka berumur ratusan tahun. Sayangnya, tempat rekreasi ini terancam aktivitas penebangan liar (illegal logging).

Objek wisata Tujuh Danau berada di Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kampar. Lokasi ini bisa dijangkau dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau selama 30 menit.

Untuk sampai ke Buluh Cina, pengunjung harus menyeberang Sungai Kampar sepanjang 100 meter. Sungai Kampar merupakan salah satu sungai terluas di Riau, hulunya berada di Sumatera Barat dan bermuara ke Selat Malaka.

Tujuh Danau terletak di tengah hutan lindung Buluh Cina. Tempat ini dinamakan Tujuh Danau karena memang memiliki tujuh danau yang dipisahkan hutan tropis.

Masyarakat setempat menyebut tujuh nama, yakni Danau Pinang Luar, Pinang Dalam, Tanjung Putus, Toak Tonga, Tanjung Balam, Bruntai dan Danau Baru. Tujuh Danau ini memiliki keunikan, antara lain warna airnya yang hijau kecoklatan, di kelilingi tanaman khas hutan rawa gambut.

Setiap hari libur, kawasan wisata ini dikunjungi warga dari berbagai daerah. Wisatawan bisa menikmati keindahan alam Sumatera sambil bersantai di pinggir danau.

Puluhan jenis tanaman langka tumbuh di sekitar Tujuh Danau. Di antaranya pohon rengas, merbau, kandis dan kruing. Konon, menurut penduduk asli Buluh Cina, tanaman dilindungi ini ada yang berumur hingga 400 tahun.

Sayangnya, hutan lindung Buluh Cina terancam aksi penebangan liar. Lembaga pemantau lingkungan di Riau memperkirakan dari 1.000 hektare hutan lindung Buluh Cina, 450 hektare sudah rusak karena dirambah para pembalak liar.

“Kondisi ini amat memprihatinkan. Seharusnya hutan bisa menjadi aset, malah dirusak demi kepentingan bisnis,” kata aktivis lingkungan, Zenal Efendi, Selasa (14/6).

Menurut Zenal, kerusakan hutan lindung memicu terjadinya banjir tahunan di Buluh Cina. Akibat bencana tersebut, warga harus mengungsi dan aktivitas ekonomi terganggu.

Nuansa Melayu sangat kental dalam kehidupan adat istiadat dan budaya masyarakat Buluh Cina. Salah satu contoh kebudayaan Melayu yang menonjol di desa ini terlihat dari bentuk rumah penduduk asli.

Keunikan Melayu Kampar dibanding Melayu umumnya adalah bahasa dan adat mereka yang dipengaruhi kultur Minang Kabau. Akulturasi budaya Melayu dan Minang Kabau ini terjadi karena letak Kampar yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat.

Warga yang bermukim di sekitar Tujuh Danau hidup sederhana dari hasil tangkapan ikan. Mereka secara turun temurun memegang adat, berbaur dengan alam di bantaran Sungai Kampar. (tim)