SIAK (RS) Meskipun sudah berumur ratusan tahun, Istana Siak di Kabupaten Siak, Riau masih terlihat berdiri kokoh. Istana dengan arsitektur perpaduan Arab dan Eropa ini menjadi saksi kejayaan kerajaan Melayu di masa lalu.

Istana Siak dibangun tahun 1889 masehi. Raja Siak yang mendirikan istana ini bernama Sultan Assayyaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin.

Sultan membangun istana di Kota Siak Sri Indrapura, sekaligus pusat Kerajaan Siak di masa itu. Istana Siak bergaya Arab, Eropa dan Melayu karena Sultan Syarief Hasim adalah seorang keturunan Arab dan Melayu, tertarik pada arsitektur negara Eropa yang pernah dikunjunginya.

Dalam Istana Siak masih tersimpan benda-benda peninggalan Sultan Siak pertama sampai sultan ke-12. Antara lain foto sultan ke-12, Assayyidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin. Sultan Syarif Kasim menjadi raja Siak terakhir, memerintah dari tahun 1915 sampai 1946.

Benda pusaka yang menarik banyak pengunjung adalah alat musik komet. Konon, alat musik sejenis gramafon ini hanya tinggal dua di dunia, yakni ada di Siak dan Jerman sebagai negara yang memproduksinya.

Dari piringan baja komet mampu mengalun musik instrumental karya komponis dunia seperti Bethoveen, Mozart, Strauss dan Sebastian Bach. Komet dibawa Sultan Syarief Hasyim dari lawatannya di Jerman ke Siak tahun 1896.

Kursi singgasana dan replika mahkota Sultan Siak juga masih bisa dilihat di ruang tengah istana. Mahkota kebesaran ini dipakai pertama kali oleh Sultan Siak ke-10. Mahkota aslinya tersimpan di museum nasional Jakarta, terbuat dari emas dan permata.

Benda bersejarah lain yang juga bisa dilihat misalnya, meriam perjuangan rakyat Siak untuk menghadapi Belanda, perlengkapan makan para bangsawan, brangkas kekayaan raja dan keturunannya serta gramafon.

Saat ini, Istana Siak dan ratusan benda pusaka di dalamnya dikelola Yayasan Amanah Sultan Syarif Kasim. Pengurusnya terdiri dari keturunan Sultan Siak. Salah seorang pengurus yayasan, Syarifah menolak Istana Siak dikelola Pemerintah Kabupaten Siak karena statusnya masih milik keluarga kerajaan.

“Kami tidak akan pindah dari komplek istana ini. Sultan tidak pernah menyerahkan istana kepada pemerintah,” kata Syarifah, beberapa waktu lalu.

Bangunan-bangunan yang berdiri kokoh di lingkungan Istana Siak, antara lain rumah pribadi sultan dan kapal kato yang digunakan Sultan Syarim Kasim untuk mengunjungi rakyatnya. Nah, jika anda tertarik melihat sisa kerajaan Melayu ini, lokasinya bisa ditempuh melalui jalan darat, sekitar tiga jam perjalanan dari Pekanbaru. (asr)