PEKANBARU (RS) Unjuk rasa puluhan mahasiswa menuntut Gubernur Riau Rusli Zainal mundur di Pekanbaru diwarnai kericuhan, Jumat (19/8). Mahasiswa menyatakan Gubernur Riau bertanggung jawab terhadap kekisruhan pemilihan ulang Wali Kota Pekanbaru.

Demonstran dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Riau dan Badan Eksekuif Mahasiswa (BEM) se-Pekanbaru terlibat saling dorong dengan anggota satuan polisi pamong praja (Satpol PP) di gerbang Kantor Gubernur Riau, Jl Sudirman. Unjuk rasa yang awalnya damai berubah ricuh karena keinginan mahasiswa bertemu Gubernur Riau Rusli Zainal gagal. Pengunjuk rasa dari seluruh universitas di Pekanbaru ini juga sempat saling dorong dengan anggota Polresta Pekanbaru.

Mahasiswa mengaku kecewa karena Rusli Zainal tidak bersedia menemui mereka. Menurut pengunjuk rasa, gubernur menyebabkan pemilihan ulang Wali Kota Pekanbaru 14 September 2011 mendatang terancam batal.

Mahasiswa menduga Rusli Zainal mengintervensi pemilukada untuk memenangkan istrinya, calon Wali Kota Pekanbaru Septina Primawati. Menurut mahasiswa, politik dinasti yang dilakukan gubernur menyebabkan dana APBD hanya dinikmati segelintir elit kekuasaan. Oleh sebab itu, mereka mendesak Rusli Zainal mundur dari jabatannya.

“Kami minta hentikan politik dinasti yang menyengsarakan rakyat. Pemerintah Rusli menyebabkan kemiskinan di Riau semakin luas,” kata pengunjuk rasa.

Mahasiswa juga minta Kepala Badan Informasi Komunikasi Kesatuan Bangsa Riau Zulkarnain Kadir mundur dari jabatan karena memicu insiden pemukulan mahasiswa saat peringatan hari ulang tahun Riau di Gedung DPRD Riau, 9 Agustus lalu. (asr)