“Bagaimana Pak Harto, apa jadi dilaksanakan rencana menguasai Halim,” demikian sepenggal dialog antara Komandan RPKAD Kol Inf Sarwo Edhie Wibowo dengan Pangkostrad Mayjen Soeharto dalam film G 30 S/ PKI yang fenomenal di era Orde Baru.

Halim Perdanakusuma, mungkin setiap hari orang menyebut nama pahlawan nasional tersebut. Begitu familiar karena mudah diingat. Paling tidak, bagi pejabat negara yang berangkat melalui sebuah bandara di Jakarta Timur.

Namun, tidak banyak orang tahu, perjalanan terakhir prajurit Angkatan Udara (AU) asal Sampang, Madura itu. Wikipedia mengisahkan pesawat Halim jatuh di Selat Malaka dalam penerbangan dari Thailand menuju Indonesia. Jenazah Halim ditemukan di pantai Malaysia.

Harian lokal di Sumatera Barat, Haluan edisi 9 April 2011 menceritakan panjang lebar tentang pesawat bersejarah tersebut. Pesawat jenis Avro Anson buatan Inggris ini dibeli dari emas yang dikumpulkan ribuan amai-amai (ibu-ibu) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Kisah heroik ini ditulis seorang penulis Minang, Nofendri T Lare.

Pembelian pesawat diprakarsai Wakil Presiden Muhammad Hatta sebagai alat perjuangan rakyat. Atas instruksi Hatta pula 27 September 1947, dibentuk panitia pengumpul emas yang terdiri dari sejumlah tokoh. Mereka ikut Hatta dalam perjalanan dari Jogjakarta ke Bukit Tinggi. Ketua panitia itu adalah Direktur Bank Negara Mr Abdoel Karim, mantan Bupati Jawa Timur RS Suria Atmaja dan Residen Sumatera Barat Mr Muhammad Rasjid.

Seluruh elemen sosial terlibat dalam aksi penggalangan emas, masyarakat setempat menyebutnya Tali Tigo Sapilin (ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai). Dalam tempo hanya kurang dua bulan, emas berhasil terkumpul 14 kilogram di lapangan Kantin Bukit Tinggi. Kemudian perhiasan ibu-ibu itu dilebur menjadi emas batangan.

Akhir November 1947, Majelis Pertahanan Rakyat Sumatera Barat yang diketuai Khatib Sulaiman menyerahkan emas ke Hatta di Gedung Agung, Bukit Tinggi (saat ini Istana Bung Hatta). Seorang tokoh, Aboe Bakar Loebis ditunjuk mencari pesawat. Ia berhasil menemukan penjual lewat perantara pengusaha Burma, H Savage.

Savage bertemu pemilik pesawat, warga Australia Paul H Keegan, Aboe Bakar Loebis dan penerbang asal Sumatera Barat Letnan Pnb Muhammad Sidik Tamimi alias Dick Tamimi di Singapura. Keegan pernah menjadi penerbang AU Inggris (Royal Air Force/RAF) saat Perang Dunia II. Ia menawarkan pesawat buatan Inggris jenis Avro Anson.

Pesawat itu langsung dibawa ke Bukit Tinggi awal Desember 1947. Namun, Keegan minta pembayaran emas dilakukan di Songkhla, Thailand. Kepala Staf Umum AURI Wilayah Sumatera Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma ketika itu setuju. Halim menugaskan Marsekal Muda Iswahyudi menerbangkan pesawat dari lapangan Gadut ke Songhkla, Thailand.

9 Desember 1947, disaksikan tokoh adat Minangkabau, pesawat bertolak ke Thailand. Rombongan dalam penerbangan ini terdiri dari Halim Perdanakusuma, Aboe Bakar Loebis dan Keegan. Sebelumnya rombongan sempat transit di lapangan terbang Pekanbaru, Riau untuk mengisi bahan bakar.

Setibanya di Songkhla, rombongan menghadapi masalah. Aboe Bakar Loebis dituduh polisi Thailand sebagai penyelundup. Aboe keluar dari Thailand menuju Penang, Malaysia. Selanjutnya meneruskan perjalanan ke Singapura.

Sedangkan Halim dan Iswahyudi meninggalkan Thailand dengan pesawat yang sudah dibeli. Kedua penerbang itu bermaksud membawa amunisi dan peralatan perang hasil transaksi ke Bukit Tinggi. Sementara Keegan pergi dari Thailand ke Singapura dengan pesawat komersial dan melanjutkan perjalanan pulang ke Australia.

Ironisnya, sebelum sampai di Bukit Tinggi, pesawat Halim-Iswahyudi jatuh, 14 Desember 1947. Aboe Bakar Loebis mendapat kabar Avro Anson jatuh melalui telegram polisi Malaka, saat tiba di Singapura. Ia menerima informasi pesawat jatuh di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Namun bangkai pesawat tidak ditemukan. Tidak lama setelah kejadian naas tersebut, jenazah yang diduga Halim Perdanakusuma ditemukan warga di sekitar Selat Malaka.

Sedangkan jenazah Iswahyudi tidak diketahui keberadaannya. Wikipedia mencatat jasad Halim sempat dikubur warga di Gunung Mesah, Perak. Beberapa tahun kemudian, makam Halim digali dan jasadnya dibawa ke Jakarta untuk dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pasca malapetaka 14 Desember 1947, pemerintah menamakan Avro Anson yang jatuh dengan kode register RI 003.

RI 003 ditemukan di Riau?

Situs berita detik.com pernah melaporkan seorang pencari kayu menemukan sebuah bangkai pesawat di belantara Sumatera. Tepatnya di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, 26 Agustus 2003. Setelah mendapat laporan Polsek Kuala Kampar, tim Pangkalan TNI AU Pekanbaru yang dipimpin Letkol Pnb Gandhara Olivenca melakukan pelacakan ke lokasi.

Hasilnya, pesawat yang ditemukan identik dengan pesawat terakhir yang membawa Halim dan Iswahyudi. Menurut Kepala Penerangan dan Perpustakaan TNI AU Pekanbaru Kapten Soetrisno ketika itu, posisi pesawat tertancap di rawa-rawa sedalam satu meter.

TNI AU menduga pesawat yang ditemukan berjenis Avro Anson dipersenjatai SMR kaliber 7,62 mm. Di sayap belakang masih terlihat bendera merah putih. “Karena itu, kami menduga bahwa kerangka pesawat yang ditemukan di hutan Kerumutan itu merupakan pesawat Avro Anson yang dipiloti Pak Halim,” kata Soetrisno, seperti dikutip detik.com.

Mabes TNI AU sudah menerima informasi tentang penemuan bangkai pesawat di Kerumutan. Sayangnya, entah kenapa hingga kini tidak ada rencana evakuasi benda bersejarah tersebut. Sejak ditemukan 2003, pesawat sumbangan rakyat Minangkabau untuk ibu pertiwi dibiarkan terkubur di tengah rimba, seperti tidak bermakna.

Masalah ini menimbulkan kegelisahan pemerhati sejarah David V. Ia mengaku pernah bertemu seorang anggota Pangkalan TNI AU Pekanbaru. Prajurit itu ikut ke lokasi penemuan pesawat 2003 silam.

Dalam perbincangan, terungkap TNI AU kesulitan mengevakuasi pesawat karena keterbatasan dana. Namun, yang mengejutkan, tentara itu mengaku melihat sesosok kerangka manusia saat meninjau Kerumutan. “Kerangka yang diduga pilot RI 003 Iswahyudi itu masih berada dalam bangkai pesawat,” ujar David.

Anehnya, seorang warga Pelalawan Toni yang mencari ikan di sekitar Kerumutan 2006 lalu, mengaku tidak menemukan kerangka manusia di kokpit Avro Anson. Keterangan ini disampaikan Toni kepada David dalam pembicaraan via telepon, 16 November 2011.

Akan tetapi, Toni yakin pesawat yang dilihatnya sama dengan ciri-ciri Avro Anson seperti digambarkan David. Toni juga mengaku melihat bendera merah putih di ekor pesawat. Bahkan ia masuk ke kokpit dan mengingat seluruh komponen di dalamnya. “Setidaknya butuh waktu tiga hari untuk sampai ke lokasi dari Teluk Meranti. Saya yakin pesawat itu masih disana. Tapi saya tidak melihat jasad manusia,” kata Toni.

Analisa tentang kemungkinan jatuhnya RI 003 di Kerumutan, Riau cukup masuk akal. Jika ditarik garis lurus rute Singapura-Bukit Tinggi, pesawat memang melintas di atas langit Riau dan sedikit melenceng ke arah Kerumutan. Diduga, pesawat keluar jalur karena cuaca buruk. Hal ini diperkuat buku sejarah Mabes TNI AU yang menginformasikan dugaan pesawat itu celaka akibat cuaca buruk.

Sebuah pertanyaan besar muncul, misteri apa di balik penemuan pesawat Halim di Riau delapan tahun silam? mengapa TNI AU belum mengevakuasi pesawat sebagai bentuk penghormatan pada pejuang? Mengapa kerangka manusia yang ditemukan 2003, kemudian raib? Adakah upaya mengaburkan fakta sejarah? Ataukah petinggi negeri ini semakin asyik dengan kekuasaan dan menganggap pengorbanan pahlawan di masa lalu hanya dongeng sebelum tidur ? (Tim riauspot.com)

KETERANGAN FOTO : Halim Perdanakusuma, Iswahyudi dan Paul H Keegan berfoto di depan pesawat RI 003 di Lapangan Gadut Bukit Tinggi, sebelum berangkat ke Songkhla, Thailand, akhir 1947. (Sumber : internet)