int

Pelalawan (Segmennews.com)- Menjelang Hari Raya Idul Adha 1433 H mendatang, dicanangkan pekan depan Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Pelalawan akan turun kelapangan untuk menguji kelayakan hewan yang akan dikurbankan.

Kepala Dinas Peternakan, Drs Wahiduddin, di Pangkalan Kerinci, Senin (8/10) menyebutkan memperkirakan jumlah hewan ternak yang ada di Kabupaten Pelalawan berkisar antara 400 hingga 500 ekor. Hewan tersebut akan diperiksa kesehatan mapun kelayakannya untuk kurban.

“Tim juga akan ditugaskan mengawas pedagang hewan kurban serta mensosialisasikan syarat-syarat hewan kurban. Pasalnya, kita tak mau kecolongan yang mengakibatkan kerugian pada masyarakat seperti ditemukannya jenis penyakit gonosis, seperti antrax atau lainnya,” jelasnya.

Lanjutnya, sesuai Undang-Undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dijelaskan bahwa sapi betina produktif adalah sapi betina yang melahirkan kurang dari 5 kali atau berumur di bawah 8 tahun, atau sapi betina yang berdasarkan hasil pemeriksaan reproduksi dokter hewan atau petugas teknis di bawah pengawasan dokter hewan dan dinyatakan memiliki organ reproduksi normal serta dapat berfungsi optimal sebagai sapi induk.

“Jika melanggar, maka ada sanksi yang menjerat karena selain pidana juga dikenakan denda,” tandasnya.

Disamping itu, untuk sapi dari luar seperti dari Lampung dan Padang, begitu datang langsung dilakukan pemeriksaan kelayakan untuk dikonsumsi.

Pemeriksaan kesehatan hewan ternak juga tertuang pada Peraturan Direktorat Jenderal Peternakan Nomor 59/Kpts/PD610/05/2007 tanggal 9 Mei 2007, bahwa jenis-jenis penyakit hewan menular yang mendapat prioritas pengendalian dan atau pemberantasannya. Pasalnya, ada 12 penyakit hewan yang mendapat prioritas pengendalian dan pemberantasannya yang disesuaikan dengan keberadaan pada masing-masing daerah.

“Khusus untuk hewan ternak, penyakit yang menjadi perioritas adalah penyakit antraks. Penyakit ini merupakan penyakit menular bersifat perakut, akut dan kronis yang ditandai dengan gejala umum seperti tidak nafsu makan, gelisah, depresi, otot-otot lemah, pembengkakan di daerah leher, dada, perut dan pembengkakan limpa dan alat kelamin luar,” katanya.

Ditambahkannya, penyakit antraks sendiri penyebabnya adalah bacillus antracis. Pada sapi, gejala awal ditandai dengan demam tinggi sampai 42 derajat celsius, dan pada puncaknya terjadi pendarahan melalui lubang kumlah yakni darah yang keluar melalui dubur, mulut, lubang hidung dan kemihnya.

Sedangkan pada kambing dan domba biasanya bentuk perakut ditandai dengan hewan berputar-putar, gigi gemertak dan mati dalam beberapa menit setelah darah keluar dari lubang kumlah. Antraks sendiri merupakan jenis penyakit zoonosis atau bisa menular kepada manusia.

“Diminta kepada masyarakat agar melakukan pemeriksaan hewan yang akan du kurbankan,” imbaunya. (rz)