int

PasirPangaraian (Segmennews.com)- Minat masyarakat Kabupaten Rokan Hulu terhadap Program pemanfaatan kotoran sapi menjadi Pupuk dan biogas masih terbilang minim.

Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Rohul, Ir Mardjoko melalui Kabid Produksi Peternakan, M Muncar, Rabu (10/10) bahwa masyarakat masih kurang meminatinya, disebabkan biaya pengolahan kotoran sapi menjadi Pupuk dan biogas masih terbilang mahal, sementara pemerintah juga belum ada menganggarkannya. Sebab program masih fokus ke daging sapi.

Katanya, saat ini baru ada 3 kelompok tani yang baru menjalankan pengolahan tersebut yakni, kelompok tani di Tapung, Desa III Bono Tapung dan di SKPC. Namun itu baru sebatas untuk kebutuhan kebun mereka, sehingga belum ada yang bisa untuk di pasarkan. 
Padahal, pihak Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) telah melakukan sosialisasi dan mengenalkan pemanfaatan kotoran sapi tersebut kepada kelompok tani dan masyarakat.

“Mungkin karena biaya alat itu mahal, sehingga mereka belum sanggup mengolah kotoran sapi menjadi pupuk dan biogas, sebab mereka harus mengeluarkan biaya untuk membeli alat sendiri,” tukas Muncar.

Tak hanya masyarakat masih minim memanfaatkan kotoran sapi, pihak perusahaan juga minim melakukan pemanfaatan kotoran sapi itu, yang baru melaksanakannya yakni, PTPN V budidayakan kotoran sapi dari 40 ekor sapi. PTPN V di afdeling Ujung Batu juga telah menggunakan listrik bahan bakar Biogas dari Kotoran sapi. Dilanjutkan dengan PT SAI yang bekerjasama dengan kelompok tani dalam pembudidayaan kotoran sapi.

Sedangkan Perusahaan yang lain di Rokan Hulu tercatat belum ada yang melakukannya, karena mereka perusahaan BUMN, sehingga Disnakkan tidak berwenang terhadap perusahaan tersebut.

“Di Rokan Hulu baru sebatas uji coba, sedangkan di Kabupaten Siak mereka sudah memasarkan pupuk hasil olahan kotoran sapi itu,” ungkapnya.

Dia juga menyampaikan jika masyarakat ingin memanfaatkan kotoran sapi jadi pupuk dan biogas, maka diharapkan masyarakat berkoordinasi dengan pihak Disnakkan.

Manfaat Kotoran Sapi

Sebelumnya Kadisnakkan Rohul, Mardjoko menyampaikan bahwa, Ketahanan pangan salah satunya coba diatasi dengan peternakan sapi potong. Ironisnya, produksi kotoran sapi malah menjadi problem tersendiri. Padahal, kotoran itu bisa diolah menjadi energi alternatif untuk mendukung ketahanan energi dan juga menjadi pupuk cair atau pupuk organik.

Produksi kotoran sapi tergantung pada jenis sapi, jenis pakan yang diberikan dan kondisi lingkungan. Sapi pedaging akan menghasilkan kotoran yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan jenis sapi penghasil susu (sapi perah).

Satu ekor sapi perharinya menghasilkan 0,7 meter kubik Bio gas, bisa juga di gunakan untuk memasak selama tiga hari. Dengan cara, 50 persen kotoran sapi dan 50 persen air, setelah di endapkan selam dua minggu, maka akan menjadi bio gas, dan bisa juga di manfaat untuk pembangkit genset.

Sedangkan air seni sapi bisa di gunakan untuk pupuk. Dalam satu hari, seekor sapi bisa menghasilkan 15 liter air seni. Air seni mengandung NH 24 sehingga harus di permentasikan melalui pengendapan terlebih dahulu selama 2 minggu baru bisa di gunakan sebagai pupuk.

“Air seni sapi, dapat menghemat pupuk sebesar 40 persen, dan pertumbuhan TBS juga akan meningkat hingga 30 persen. Tapi air seni tersebut harus di endapkan terlebih dahulu, jika tidak, air seni yang masih mengandung bio gas tersebut akan dapat merusak tanaman,” ungkap marjoko.

Bahkan kotoran sapi yang telah dipermentasikan menjadi biogas bisa dijual antara Rp 1.400 hingga Rp 1.500 per kilogram, sementara harga urine sebelum dipermentasikan dijual Rp1.000 per liter, dan urine yang telah melalui proses permentasi dijual Rp 10.000 per kilogram. (idab)