Bupati Pelalawan H.M.Harris menyerahkan cinderamata kepada Menhut RI Ir.H.Zulkifli Hasan,SE.MM
Pelalawan(Segmennews.com) – Gajah Sumatera adalah satwa terbesar di Indonesia yang hanya hidup di pulau Sumatera saja.Konservasi untuk mamalia terbesar ini akan membantu mempertahankan keragaman hayati dan integritas ekologi dalam ekosistemnya.” Kegiatan perekonomian dan eksploitasi yang berlebihan telah mendesak keberadaan gajah – gajah ini baik secara populasi,habitat dan ekosistemnya. Pembukaan lahan untuk perkebunan, pemukiman dan kegiatan ekonomi lain di habitat gajah telah meminggirkan gajah – gajah tersebut dan bahkan dianggap menjadi satwa pengganggu “,demikian dikatakan Menteri Kehutanan RI. Ir.H. Zulkifli Hasan,SE.MM dalam sambutannya dihadapan warga masyarakat yang hadir, Kamis (7/1) di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Kecamatan Ukui pada acara peletakan batu pertama pembangunan pusat konservasi gajah. Menurut Menhut, lahan TNTN yang luasnya mencapai 83 ribu hektar ini sangat potensial menjadi wisata alam dan kawasan konservasi gajah. Tidak ada lagi didunia ini yang luas kawasan konservasinya seperti TNTN dan itu ada di Pelalawan. “Gajah juga harus hidup dan masyarakat yang berada disekitar kawasan juga butuh hidup.Kita tidak ingin mencari siapa yang salah tapi win win solution.Kita bisa memberikan 1 KK 2 hektar untuk perkebunan karet atau lainnya bekerjasama dengan transmigrasi dan dana Kita ada melalui Badan Layanan Umum di Kementerian Kehutanan. Kita juga dibantu dari Negara Belgia sebesar 2,5 miliar untuk pengembangan kawasan konservasi gajah di TNTN. Saya yakin 5 tahun kedepan TNTN bisa menjadi kawasan konservasi terbesar di Asia Tenggara “, ujar Menhut. Dikatakan Menhut, masyarakat diminta untuk tidak melakukan kegiatan – kegiatan pembukaan lahan dan perambahan hutan di kawasan TNTN. Informasi yang Kita dapat dari Bapak Bupati ada lahan yang bisa digunakan bagi warga itulah yang akan kita tindaklanjuti kedepannya.” kita minta Pemda mendata lahan tersebut lalu akan kita programkan untuk usaha masyarakat. 2 hingga 3 bulan kedepan kita harapkan konflik antara masyarakat dan gajah tidak terulang lagi”, ujarnya.

Direksi Taman Safari Indonesia (TSI) Dr.Jahnsen Manansang JS dalam sambutannya mengatakan pertama yang punah tahun 80-an adalah badak dan sekarang gajah. Akibat konflik, banyak gajah yang mati. Untuk itu didirikan tempat pelatihan gajah bersama Departemen Kehutanan. “TSI dan Pairi Daiza – Belgia Pusat hari ini kita lakukan peletakan batu pertama pembangunan pusat konservasi gajah diatas lahan seluas 2 Ha. Diharapkan klinik ini mampu menjadi pusat edukasi, penelitian dan ekowisata untuk menguatkan keberadaan TNTN”, ujarnya.

Sementara itu Bupati Pelalawan H.M.Harris menyatakan rasa terimakasih dan harapan yang besar agar TNTN menjadi kawasan Wisata Alam dapat benar – benar terwujud. “Kita dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan mengharapkan dari Kemenhut RI dapat terus mengawal rencana ini dengan baik. Kedepan Kita harapkan masyarakat bisa berusaha dengan lahan yang ada dan gajah dapat hidup dengan nyaman di kawasan TNTN. Tahun 2007 Kita sudah buat kesepakatan dengan 240 kk agar mengikuti aturan – aturan agar tidak merambah hutan dan menambah lahan “, ujar Bupati. (dn)