diklatjepangBengkalis (SegmenNews.com)– Pemerintah Kabupaten Bengkalis jalin kerja sama dengan Ube International Environmental Cooperation Association (IECA) dan Japan International Cooperation Agency (JICA). Bentuk kerja sama berupa pengirimanan pegawai ke Jepang untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan perbaikan lingkungan.

“Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk pengiriman pegawai Kabupaten Bengkalis ke Jepang dalam tiga tahap selama tiga tahun yang didanai sepenuhnya oleh JICA sementara Pemkab Bengkalis hanya mendukung uang saku peserta,” kata Kepala Bappeda Kabupaten Bengkalis Jondi Indra Bustian, Kamis (7/3).

Kerjasama ini termuat dari Nota Kesepakatan yang telah ditandatangani pada 17 September 2012 di Jakarta antara Kepala Bappeda Kabupaten Bengkalis, Jondi Indra Bustian, mewakili Pemerintah Kabupaten Bengkalis dengan Mr. Tomoyuki TADA selaku Senior Representative JICA Indonesia Office serta Presiden Ube International Environmental Cooperation Association Prof. Masao Ukita, yang disaksikan oleh Bupati Bengkalis, Herliyan Saleh dan Walikota Ube, Kimiko Kubota.

Diungkapkan Jondi, pendidikan dan pelatihan ini di sponsori sepenuhnya oleh JICA selaku lembaga yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang yang bertujuan untuk membantu pembangunan di negara-negara berkembang.

Selama di Jepang, peserta akan dilatih merumuskan dan formulasi kebijakan bidang lingkungan melalui semangat Ube Model. Peserta akan dipantau langsung para ahli lingkungan dari Yamaguchi University.

“Peserta akan dilatih menyusun dokumen masterplan lingkungan Kabupaten Bengkalis hingga selesai pada tahun ketiga nantinya. Untuk tahap pertama tepatnya awal 2013 ini, Pemkab Bengkalis telah mengirimkan delapan pegawai dan telah menyelesaikan pendidikan selama dua minggu yang diketuai Asisten I Setda Bengkalis, Burhanudin,” terang alumni IPB Bogor dan IOWA State University ini.

Ketua Tim Burhanuddin, mengatakan selama di Ube telah mendapat materi yang sangat aplikatif terkait pengelolaan lingkungan. mulai dari struktur masterplan lingkungan di Kota Ube, sistem dan manajemen pengelolaan sampah, air bersih, limbah, listrik dan teknologi sampai pada metode kerjasama antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat.

“Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan budaya, sikap dan etos kerja masyarakat Jepang, yang sebenarnya tidak sulit untuk ditiru,” ungkapnya.

Burhannudin, mengatakan saat itu Presiden Ube International Environment Cooperation Agency (Ube IECA) Prof. Masao Ukita, menyarankan agar Pemkab Bengkalis dalam pengelolaan lingkungan dapat mengadopsi Ube Model dengan melakukan penyesuaian terhadap kondisi di Bengkalis. Kota Ube, memiliki sejarah buruk dalam pengelolaan lingkungan bahkan sebagai kota paling parah dunia sebagai penghasil polusi pada era 1950-an.

Namun saat ini kondisi menjadi terbalik, bahkan pada tahun 1997 Kota Ube mendapat penghargaan Global 500 dengan mendapat pengakuan internasional sebagai model yang dapat diterapkan juga di negara lain. Memang proses ini tidak terjadi dalam sekejap, butuh komitmen dan kerjasama semua pihak.

Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bengkalis Huzaini yang juga peserta pendidikan ke Jepang, mengatakan Pemkab Bengkalis bisa menimba pengalaman dari Kota Ube dalam penanganan masalah lingkungan. “Kita salut denganmasyarakat di sana yang kompak dan peduli lingkungan,” ungkapnya.

Pada saat penutupan pendidikan di Balai Kota Ube, Kepala Pusat Internasional Daerah Chugoku JICA Toshiyuki Arita mengatakan bahwa JICA berkomitmen untuk terus mendukung program kerjasama ini demi mendorong terciptanya perbaikan lingkungan di Kabupaten Bengkalis.

Hal senada juga disampaikan oleh Walikota Ube Kimiko Kubota, perempuan yang sangat ramah dan murah senyum ini memberikan apresiasi atas terjalinnya kerjasama ini dan beliau berharap selain Pemerintah Kabupaten Bengkalis dapat belajar banyak dari Kota Ube, namun tentu juga dapat memberikan masukan bagi Kota Ube. (humas)