arkeologMedan (SegmenNews.com)– Tim arkeolog menemukan struktur bangunan yang diduga candi kuno dalam penggalian di Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut). Lokasi penemuan itu berada di Lingkungan VII, Kelurahan Paya pasir, Kecamatan Medan Marelan.

Penggalian itu dilakukan Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO/Pusat Penelitian Timur Jauh Prancis), dan Pusat Arkeologi Nasional, didukung Balai Arkeologi Medan dan melibatkan tenaga lapangan dari Pusat Studi Ilmu Sosial dan Ilmu Sejarah (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed). Proses penggalian sudah berlangsung sejak 14 hari lalu dan Rabu (20/3/2013) merupakan hari terakhir.

Struktur bangunan yang terbuat dari bata kuno ini ditemukan dalam kotak penggalian di kedalaman sekitar dua meter. Susunan bata yang menjadi dinding bangunan itu tebalnya sekitar 40 cm. Sedangkan panjang dan struktur utuhnya belum bisa diketahui karena berada di dalam tanah dan tembus ke lantai rumah warga.

Saat penggalian hari terakhir berlangsung Rabu sore, arkeolog Daniel Perret yang berasal dari EFEO bersama Heddy Surachman peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional yang juga ketua tim, terlihat berhati-hati melakukan penggalian di areal eskavasi seluas 250 meter persegi itu. Bagian demi bagian tanah di lokasi galian diiris dengan sekrap. Seterusnya mereka membuat catatan dan memotret bagian-bagian tersebut. Keramik maupun fragmen yang ditemukan dibersihkan dengan air, lalu dikodefikasi.

Kepada wartawan Heddy Surachman menyatakan, penggalian yang dilakukan ini merupakan kerjasama Indonesia dan Prancis dalam upaya mengetahui bagaimana jejak permukiman masa silam di tempat ini. Kawasan yang dikenal dengan sebutan Kota Cina ini, masih menyisakan banyak pertanyaan, termasuk struktur bangunan yang ditemukan kali ini yang kemungkinan merupakan candi.

“Sangat mungkin. Tetapi masih terlalu dini untuk disimpulkan karena yang terlihat baru sebagian kecil saja. Kita masih belum mengetahui berapa panjang dan lebarnya dan belum dapat mengkonstruksi bentuk bangunannya seperti apa,” kata Surachman didampingi Perret.

Tim juga belum menemukan arca secara utuh, yang merupakan benda penting di suatu bangunan sakral seperti candi. Memang ada ditemukan beberapa fragmen arca dari batu granit, tetapi belum bisa menjadi pedoman.

“Arca merupakan benda yang moveable, mudah dipindah-pindahkan, jadi kita belum bisa cepat-cepat menyimpulkan,” kata Surachman.

Untuk memastikan struktur bangunan yang ditemukan itu candi atau tidak, perlu lebih banyak penggalian yang dilakukan. Namun karena keterbatasan waktu maka penggalian tahap awal ini hanya dilakukan sampai di sini.

Sementara Daniel Perret menyatakan, diperlukan setidaknya waktu lima atau enam tahun lagi untuk menggali di sekitar lokasi untuk mengetahui seperti apa Kota Cina itu dahulu.

“Ini merupakan salah satu tahap baru dalam penelitian situs pemukiman kuno di Sumatera Utara. Sesudah tiga tahun melakukan penggalian di sini, kita mendapatkan temuan yang luar biasa, baik tulang, artefak dan bahan organik lainnya. Hampir tidak ada situs lain di Sumatera Utara yang memiliki kekayaan temuan seperti ini,” kata Perret. (dtc)