int
int

Jakarta (SegmenNews.com)– Badan pusat Statistik (BPS) mencatat, tingginya inflasi Maret tidak lepas dari andil bahan makanan mulai dari bawang, cabe, hingga jagung.

Komoditas bawang merah punya andil 0,44 persen terhadap inflasi bulan lalu. Salah satunya karena kenaikan harga sebesar 82,23 persen dibanding bulan sebelumya. Kenaikan harga karena kelangkaan dan keterbatasan pasokan.

Kepala BPS Suryamin menuturkan, kenaikan harga tertinggi untuk komoditas bawang merah terjadi di Cirebon. Mencapai 153 persen. Sedangkan di Tasikmalaya mencapai 121 persen. Rata-rata sebagian besar kota mengalami kenaikan 40-115 persen.

“Minggu kedua bulan Maret terjadi kenaikan 65 kota, tapi ada satu kota yang mengalami penurunan harga turun sebesar 2 persen,” ujar Suryamin di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (1/4).

Setelah bawang merah, komoditas bawang putih memberi andil 0,2 persen terhadap inflasi. Bawang putih juga mengalami kenaikan harga 41,3 persen dan terjadi di 65 kota. Bawang putih mengalami kenaikan tertinggi di Bima, sebesar 124 persen dan Sumenep 120 persen. Rata-rata, di seluruh kota yang disurvei BPS, mengalami kenaikan 25-90 persen.

“Harga dipantau setiap selasa, jadi bukan karena kenaikan,” tegas dia.

Selain kedua komoditas tersebut, pemicu inflasi juga disebabkan oleh cabe rawit. Andil cabe rawit sebesar 0,05 persen dengan perubahan harga 20,98 persen. Terjadi karena kurangnya pasokan khusus cabe rawit merah di 57 kota, seperti di Sumenep dan Palu. Rata -rata kenaikan tersebut di kota IHK mencapai 20-55 persen.

Komoditas Jeruk juga menjadi sumber penyebab inflasi. Jeruk memiliki andil 0,02 persen dan terjadi perubahan harga 2,18 persen.

“Terakhir penyebab inflasi adalah tarif sewa rumah 0,02 persen terjadi perubahan harga Karena biaya perawatan rumah seperti di Sibolga,” imbuhnya. (sumber merdeka.com)