Masyarakat hentikan belasan mobil berat PT RAPP
Masyarakat hentikan belasan mobil berat PT RAPP

Koto Gasib (SegmenNews.com)– PT.Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) terminal Buatan, diduga langgar kesepakatan untuk melakukan penyiraman jalan lintas di Desa Senggemang, Kecamatan Kotogasib, Siak. Kamis (18/4/13), akibatnya puluhan masyarakat marah dan menghentikan belasan armada perusahaan.

Aksi puluhan masyarakat sekitar tersebut dikawal Kapolsek Lubuk Dalam AKP Pridolin Nababan beserta jajarannya, dan tokoh masyarakat agar tidak terjadi aksi anarkis atau tindakan yang tidak diinginkan.

Menurut Kepala Desa (Kades) Sengkemang, Kecamatan Koto Gasib yakni M.James bahwa aksi yang dilakukan masyarakat ini secara damai dan hal ini dikarenakan masyarakat tidak tahan lagi menghirup debu jalan saat kendaraan RAPP melintas.

“Kita sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan, agar penyiraman jalan tersebut dilakukan efektif hingga jalan tanah ini tidak berbedu yang cukup mengganggu masyarakat. Namun kenyataan sampai saat ini kesepakatan tersebut tidak terealisasi dengan baik,” terang M. James.

Hal senada juga di sampaikan Ketua BPD desa Sengkemang M.Nasir, apabila persoalan ini tidak segera diatasi oleh pihak perusahaan akan terus berlanjut persoalan antara masyarakat dengan perusahaan.

“Kita sangat mengharapkan kepada perusahaan untuk memenuhi kesepakatan yang sudah dibuat beberapa waktu lalu, agar masalah ini bisa selesai dan masyarakat desa sengkemang tidak lagi menghirup debu yang sangat menggangu kesehatan masyarakat akibat jalan yang berdebu,” ujar Nasir.

Pantauan wartawan dilapangan bahwa, saat aksi puluhan masyarakat tersebut tidak tampak dari perusahaan atau dari pelabuhan terminal buatan milik PT.RAPP untuk menanggapi hal itu, hanya terlihat salah seorang anggota DPRD Siak yakni Robi Cahyadi yang juga merupakan rekanan yang dipercaya perusahaan untuk menyiram jalan tersebut.

Setelah beberapa lama aksi puluhan masyarakat itu berlangsung, terlihat Kapolsek Lubuk Dalam beserta anggotanya mengambil kayu yang dilintangkan masyarakat dijalan untuk menghentikan belasan armada yang akan melintas tersebut.

Setelah lintangan kayu di ambil, barulah seluruh armada berjalan menuju terminal buatan. Dan setelah beberapa lama kemudian, puluhan masyarakat pun membubarkan diri. (rinto)