banjir-di-kec-madina

MADINA (SegmenNews.com)– Banjir bandang menerjang 12 desa yang tersebar di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Minggu (28/4) malam. Sedikitnya 819 rumah terendam, 15 rumah luluh lantak, enam warga mengalami luka-luka, dan ribuan warga lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman, rumah keluarga misalnya.

Bencana alam ini terjadi disebabkan sungai Aek Mata dan Aek Ranto Puran/Aek Kitang meluap lalu menerjang 12 desa itu; Sopo Batu, Sigalapang Jae, Sigalapang Julu, Kampung Padang, Kelurahan Panyabungan 3, Panyabungan 1, Kayu Jati, Gunung Manaon, Manyabar, Pagaran Tonga, Panyabungan Julu, dan Panyabungan Jae.

Sedangkan enam warga yang mengalami luka-luka adalah dua warga Kelurahan Panyabungan 3, yakni Ishak dan Bawardah, dan empat warga mengalami luka ringan; Tati, Manda, Ika dan Kaila. Keenam korban luka ini sempat dirawat di RSU Panyabungan. Namun, pada Senin (29/4) pagi, mereka sudah pulang. Keenamnya mengalami luka karena goresan benda dan tertimpa bagian rumah yang rusak dan rubuh.

Kepala BPBD Madina Rispan Zulyardi, kepada METRO, menjelaskan ada 819 rumah yang terendam, ratusan rumah rusak ringan dan 15 unit rumah rusak parah akibat banjir yang terjadi pada Minggu malam.

Namun, Rispan belum memastikan berapa total kerugian pada peristiwa ini. Pasalnya, tim masih berada di lapangan melakukan pendataan. Untuk sementara, pihaknya sudah mengirimkan bantuan berupa beras, ikan sarden, selimut dan mi instan.

“Kami belum bisa pastikan berapa total kerugian. Dari data sementara ada sekitar 819 rumah yang terendam. Sebagian di antaranya mengalami kerusakan, ada 15 unit rumah yang rusak parah. Kemudian ada enam warga mengalami luka-luka dan sempat dirawat di RSU Panyabungan. Kami juga sedang mempersiapkan posko bantuan,” ucap Rispan.

Rispan menambahkan, hingga kemarin ratusan rumah yang berada di pinggir sungai Aek Mata Panyabungan masih terendam lumpur. Warga terlihat membersihkan timbunan lumpur dan pasir di rumah masing-masing. Sebagian besar warga menyiapkan semua perabotan untuk diungsikan ke rumah saudara dan famili terdekat yang lebih aman.

Lokasi yang paling parah atas musibah banjir ini adalah Kelurahan Panyabungan 3 dan Kayu Jati. Ratusan rumah rusak dan harta benda tidak bisa diselamatkan. Seorang warga, Azwar (32), kepada METRO, menjelaskan, banjir yang terjadi cukup mengagetkan warga Panyabungan.

Pasalnya, kejadian hanya berlangsung dalam satu jam. Saat itu, ketinggian air di Jalan Willem Iskandar pusat Kota Panyabungan mencapai satu meter sehingga warga harus menggunakan perahu karet agar bisa menyelamatkan diri, sedangkan pengusaha ruko di jalan ini tidak bisa lagi menyelamatkan apapun.

“Peristiwa ini mengagetkan kami. Ini baru pertama kali terjadi selama 50 tahun terakhir. Saat kejadian warga hanya bisa menyelamtkan diri ke tempat yang lebih aman saat listrik padam. Syukurlah tidak ada korban jiwa pada peristiwa ini,” sebut Azwar.

Azwar menambahkan, terjadinya bencana ini tidak disangka-sangka karena sungai Aek Mata tergolong dangkal. “Tidak ada yang menyangka kejadiannya akan seperti ini, makanya saat kejadian tempat pelarian utama hanya masjid dan fasilitas umum yang berada di ketinggian, sementara Masjid Taqwa di Pasar Lama Panyabungan juga digenangi air,” tambahnya.

Putra Saima (25) warga Kelurahan Kayu Jati, menambahkan, rumah semi permanen yang dihuni orangtua dan anggota keluarganya kini tidak bisa ditempati lagi karena mengalami kerusakan. “Kejadiannya sangat singkat.

Tak ada satupun yang bisa diselamatkan dari dalam rumah. Memang pada saat kejadian, kami hanya berpikir bagaimana bisa selamat. Saat itu kami bergegas lari menuju RSU Panyabungan dan gedung SD terdekat karena luapan air sungai tidak sampai ke situ.

Saat ini kami hanya berusaha membersihkan dan memperbaiki rumah kami yang rusak. Untuk sementara kami sekeluarga mengungsi tinggal di rumah keluarga kami, begitu juga dengan tetangga kami,” kisahnya.

Hal serupa disampaikan Andi, warga Banjar Sibaguri, Kelurahan Panyabungan 3. Menurutnya, saat kejadian genangan air di rumah warga yang dekat dengan sungai Aek Mata mencapai dua meter. Jalan umum juga digenangi air setinggi pinggang orang dewasa sehingga ketika itu jalan ditutup hingga Senin pagi.

 

sumber: metrosiantar