dbd

Pekanbaru (SegmenNews.com)– Masyarakat di Riau harus lebih berwaspada terhadap virus Aedes aegypti. Sebab di Provinsi Riau saja kurun waktu Maret 2013 lalu 250 warga di seluruh kabupaten/kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD).

Angka ini membuktikan bahwa Riau termasuk daerah yang rawan DBD sesuai data dari Dinas Kesehatan (Diskes) Riau. Pengidap terbesar penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aidhes Aighepty betina itu diduduki Kabupaten Siak dengan jumlah sebanyak 49 kasus.

“Dari total 250 kasus DBD di Riau, Kabupaten Siak berada di urutan teratas dengan jumlah 49 kasus. Kemudian kota Pekanbaru berada di ururtan kedua dengan jumlah 33 kasus, Rohul 16 kasus, Pelalawan 3 kasus, Inhu 5 kasus, Kuansing 12 kasus, Inhil 18 kasus, Bengkalis 29 kasus, Dumai 26 kasus, Kampar 43 kasus, Rohil 10 kasus, dan Meranti 6 kasus. Korban jiwa satu orang dari Kampar,” rinci Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, (P4L) Riau, T Zul Efendi, Rabu (1/5) di ruang kerjanya.

Untuk menekan DBD, diharapkan masyarakat bersinergi dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang ada di lingkungannya masing masing.

“Perlu mewujudkan pola hidup sehat dengan cara melakukan gotong royong rutin seminggu dua kali, atau lebih terfokus untuk mengubur, menguras, dan membersihkan penampungan penampungan air yang dapat menjadi sarana perkembangbiakkan nyamuk demam berdarah ini,” jelasnya.

DBD menurut Zul Efendi disebabkan virus dengue melalui gigitan nyamuk aidhes aighepty betina. “Bagi warga yang mengalami demam tinggi dalam waktu dua minggu, secepatnya memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. Jika hasil pemeriksaan mengarah pada DBD, pemerintah akan menanggung biaya pengobatannya,” sebutnya.

Setelah itu, Dinas Kesehatan setempat harus secepatnya melakukan investigasi ke lapangan untuk melakukan fogging. “Kemudian, sample jentik nyamuk di sekeliling rumah yang terjangkit DBD dalam radius 10 meter akan kita periksa ke laboratorium. Ini dilakukan untuk tindakan selanjutnya,” tegas Zul. (lis/rn)