Roy SuryoJakarta (SegmenNews.com)– Rapat pembahasan dan penetapan tuan rumah Islamic Solidarity Games (ISG) III menemui jalan buntu. Putusan gagal diambil, sementara waktu terus berjalan. Bahkan karena beratnya pembahasan, Menpora Roy Suryo sempat mencurahkan isi hatinya yang ingin menangis.

Meski begitu, Menpora juga menyatakan siap untuk turun ke Riau. Tapi soal non teknis jadi perlu jadi pertimbangan.

”Tolonglah, saya mau menangis rasanya. Seperti persiapan kami selama ini, habis begitu saja,” ujarnya pada rapat pembahasan di Kemenko Kesra, Rabu (8/5/2013).

Di awal rapat, Menpora tetap berpendapat agar ISG dipindahkan ke Jakarta. Bukan dari Riau ke DKI, tapi dari daerah ke pusat. Ini setelah melihat segala perkembangan, baik kesiapan Riau, aspirasi sebagian masyarakat, dan keinginan utusan ISSF. Atas penjelasan tersebut, Menpora menyarankan agar Tuan Rumah ISG dari Riau ke Ibukota Negara.

Selain itu mengusulkan perubahan Kepres pemindahan dan sebagainya. Dia juga minta Menko Kesra mempertimbangkan faktor ketidaksiapan dari aspek non teknis, misalnya Pilgubri yang juga di bulan September dan penyelesaian hukum kasus PON.

Atas penjelasan Menpora, Gubernur Riau Rusli Zainal meluruskan, bahwa secara teknis Riau sangat siap. Dia juga membeberkan data dan fakta penjelasan itu secara visual melalui LCD Proyektor. Dia mengapresiasi pendapat Menpora. Tapi menyayangkan karena tidak Membicarakan terlebih dahulu, melainkan tahu lewat media.

“Keputusan sepenting ini, hanya diwacanakan lewat media. Kesalahan bukan semata-mata Riau, tapi Pusat. Karena anggaran Pusat juga terlambat. Ini saya luruskan,” paparnya.

Rusli membantah bahwa banyak ketidaksiapan. Itu tak benar. ISSF hanya minta perbaikan-perbaikan kecil. Soal stadion sudah gak ada masalah karena semua kontraktor sudah meneken kesediaannya untuk menyerahkan, dan penyelesaian administrasi, sedang berjalan, katanya.

Menag Suryadharma Ali juga mengapresiasi positif ISG dilaksanakan di Riau. Sebab dengan demikian, kita bisa menjelaskan kepada dunia bahwa sebuah provinsi pun di Indonesia, mampu menyelenggarakan event besar. Dunia Islam akan mengenal Indonesia, tidak hanya dari Jakarta. Tapi juga Riau. Dia pernah mengalami peristiwa yang identik, ketika menyelenggarakan MTQ di wilayah konfilik agama, yaitu Ambon. Ternyata bisa juga sukses.

Namun, dia hanya memberikan pandangan. “Silakan putuskan dengan bijak. Jangan sampai rakyat kecewa, ” pungkasnya.

Sementara itu Ketua KOI Rita Subowo selaku penanggungjawab teknis pertandingan, minta pemerintah memberi kepastian soal kucuran dana, karena ini menyangkut pencitraan kepada negara lain. Selain itu, ”Beri kami kepastian keamanan, dan situasi politik yang kondusif. Saya sudah surati pihak keamanan, untuk memetakan keadaan keamanan untuk pelayanan tamu asing,” ujarnya.

Dia menambahkan, di ISG terjadi pengurangan cabor dari 17 menjadi 13 cabor. Keempat cabor tersebut adalah panjat tebing, tradisional road race, pencak silat dan takraw. sehingga kontingen yang terlibat juga hanya 2000 orang,” katanya.

Ditambahkan lagi, mengingat Riau sudah lama mempersiapkan, kita perlu hargai juga, pintanya.

Menkominfo Tifatul Sembiring mengingatkan agar setiap ada perbedaan pendapat di antara petinggi ISG, jangan lakukan di media. “Kurang elok, apa salahnya saling Ping-ping an saja di blackberry,” ujarnya ringan.

Ketua DPRD Riau Johar Firdaus menegaskan, untuk kesuksesan Riau, DPRD siap mendukung habis dana untuk menyukseskan ISG. “Masyarakat Riau sudah menunggu. Jangan kecewakan mereka,” ujarnya.

Dukungan untuk Riau juga disampaikan perwakilan KONI Pusat. Dalam hal ISG, katanya, kita sudah punya agriment, bukan MoU. Jadi kuat sekali. “Kami berpendapat, jangan buru-buru diputuskan. Kalau dipindahkan akan sulit, konsekwensi sosialnya lebih berat. Pertemuan utusan khusus ISSF, apakah dibicarakan juga kapan jadwal deadline? Kerahkan juga elemen olahraga yang lain, termasuk pelajar dan LO mahasiswa,” pintanya. (rls)