mokasSegmenNews.com– Pasar otomotif nasional kedatangan pemain baru, mobil murah atau Low Cost Green Car (LCGC), pada September lalu. Dengan harga mulai Rp75-120 juta, mobil murah diharapkan bisa dilirik banyak masyarakat Indonesia.

Namun keberadaan mobil murah tetap saja menimbulkan kontrovesi, mulai dari kemacetan khususnya Jakarta, hingga berpotensi membuat anjlok mobil bekas.

Meski begitu, pelaku bisnis mobil bekas optimis dampak mobil murah tidak akan mempengaruhi penjualan mobil bekas.

“Masih berjalan lancar, tidak ada pengaruh atau masalah,” kata Senior Manager Marketing Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, jakarta Pusat, Herjanto Kosasih saat dihubungi VIVAnews, Selasa 1 Oktober 2013.

Lebih lanjut, Herjanto mengatakan, mobil murah belum bisa mengimbangi berbagai kelebihan yang ada seperti pada mobil bekas. “Kalau dipikir pakai akal sehat, misalkan banderol 120-135 itu paling komplit, yah mending beli Yaris, itu jauh lebih komplit (fitur, mesin, dan lainnya) bahkan masih 2012,” kata Herjanto.

Tidak hanya itu, kata dia, dimensi mobil murah yang kecil tentunya berbeda dengan keinginan masyarakat pada mobil berkapasitas luas seperti di kelas hatchback, yakni Yaris, Jazz, dan Swift.

Dengan harga paling mahal Rp130 juta, konsumen juga bisa membeli mobil bekas yang sesuai dengan kebutuhan keluarga–dapat angkut penumpang dan barang yang banyak–seperti Avanza, Xenia, Kijang Innova.

“Bahkan bisa juga dapat Sirion bekas 2013 dengan harga yang beda tipis,” ujar dia.

Dia menambahkan, situasi ini belum membuatnya melakukan cuci gudang atau diskon besar-besar guna menarik konsumen.

sumber: viva