Rokan Hulu (SegmenNews.com)– Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, menyatakan bahwa pihaknya dengan Pimpinan Pondok Pesantren (Pontren) Darussalam Saran Kabun Buya Alaidin Aidarus Lc, bersepakat untuk melaksanakan pembinaan da’i dan da’iyah bagi alumni Pontren Darussalam, yang saat ini bertebaran di beberapa ponpes se Riau dan juga sebahagian berkiprah di tengah-tengah masyarakat.

Kesepakatan tersebut dicapai, setelah dilakukan pertemuan silaturrahim dan dialog masalah keummatan, serta permasalahan yang dihadapinya, antara Kakan Kemenag Rohul dengan pimpinan Ponpes Darussalam, Senin (30/9/2013) bertempat di kantor Kemenag Rohul, Pasir Pengaraian. Pembinaan da’i dan da’iyah akan dilaksanakan bulan Nopember atau paling lambat akhir tahun ini.

Hadir dalam silaturrahim tersebut, Kakan Kemenag Rohul, didampingi Kasi Pendidikan Islam (Pendis) Drs H Syahruddin MSy, Kasi Penyelenggara Syari’ah H Abd Rahman Jailani SAg, Pimpinan Ponpes Darussalam Buya Alaidin Aidarus Lc, Pimpinan Ponpes An-Nabawiyah Rokan IV Koto H Chevi, dan Tenaga pendidik ponpes Darussalam.

Dialog tersebut membahas berbagai persoalan keummatan, seperti perlu adanya penanggungjawab kegiatan keagamaan pada setiap desa, yang pada masa lalu dikenal dengan istilah Qadi, yang oleh Kemenag kemudian diangkat menjadi Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (P3N). Jabatan Qadi ini perlu dihidupkan kembali, tegas Abuya.

Buya Alaidin Aidarus, yang juga Ketua Jamaah Thariqah Mu’tabaroh Indonesia (Jatmi) Kab Rohul ini menyatakan, bahwa di salah satu desa yang ada di kabun, ada seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya, tanpa ada perceraian. Kemudian si perempuan menikah lagi dengan lelaki lain dan saat ini telah punya anak. Ini masalah real di masyarakat yang harus diselesaikan oleh seorang Qadi, tegas Abuya.

Ahmad Supardi menyatakan, bahwa masalah ini menjadi perhatian khusus dari Kemenag Rohul beserta jajarannya. Pihaknya juga berkeyakinan bahwa masih banyak lagi masalah lain yang terjadi di akar rumput, yang perlu penanganan khusus, seperti nikah dibawah tangan, cerai dibawah tangan, perselingkuhan, perceraian, anak-anak tak pandai ngaji, dsb.

Ahmad Supardi beserta Buya Alaiddin Aidarus, juga berdiskusi tentang masa depan kepemimpinan Rohul pasca pak Achmad MSi. Rohul inikan dikenal sebagai negeri seribu suluk, pemimpinnya saat ini dan apalagi ke depan harus mempunyai perhatian terhadap perkembangan suluk. Jika tidak, maka bisa bubar julukan Negeri Seribu Suluk itu, tutur Buya Alaidin Aidarus. (r4n)