timnas1SegmenNews.com– Satu langkah pasti sudah dijejak oleh Timnas Indonesia U-19 untuk menuju ke pentas tertinggi di ranah sepakbola, Piala Dunia. Kemenangan 3-2 atas Korea Selatan di laga terakhir kualifikasi Piala Asia 2014 membawa pasukan ‘Garuda Jaya’ lolos ke putaran final di Myanmar dengan status juara Grup G.

Bermain di ajang sebesar Piala Dunia mungkin masih terlalu tinggi bagi Indonesia, tapi dengan tekad, keyakinan, usaha dan doa, hal tersebut bukan hal yang mustahil pula untuk digapai.

Apalagi, seperti sudah disebut tadi, jalan ke arah sana sudah terbuka. Dengan tampil di Piala Asia tahun depan, maka Timnas U-19 punya kans berlaga di Piala Dunia U-20 2015. Syaratnya, Evan Dimas cs wajib menduduki posisi empat besar pada turnamen di Myanmar tahun depan.

Indra Sjafri selaku pelatih melihat itu sebagai tantangan besar. Tapi berkaca pada hasil melawan Korsel yang nota bene adalah juara bertahan di kancah Asia, pria berdarah Minang itu pun yakin bisa mewujudkan harapan bangsa.

“Kami percaya diri bisa lolos ke Piala Dunia U-20. Semua bisa diwujudkan. Kami yakin impian itu bisa diwujudkan,” tegas Indra.

“Kita harus ubah pola pikir. Jangan menganggap mereka lebih bagus permainannya. Justru kita lebih hebat dari mereka. Dengan keyakinan itu, kita pasti bisa meraih hasil yang terbaik. Ini bukan sombong, tapi harus percaya diri,” lanjut mantan pelatih PSP Padang tersebut.

Sejarah Indonesia di Piala Asia U-19

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Indonesia pernah berjaya di pentas Piala Asia U-19. Satu gelar juara dan dua status runner-up pernah disabet oleh anak-anak muda tanah air.

Legenda sepakbola Indonesia, Bob Hippy adalah satu pemain yang ikut mengantarkan Garuda Jaya meraih sukses 1961. Kala itu perhelatan Piala Asia U-19 dilangsungkan di Bangkok, Thailand.

Bob mengisahkan, sebelum mengikuti turnamen akbar itu, skuad Merah Putih yang ditangani Tony Pogaknic, Djamiat Dhalhar dan Maulwi Saelan, digembleng di Lapangan Kebayoran, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan.

Pada fase penyisihan, Indonesia tergabung di Grup A, bersama negara-negara yang saat ini menguasai sepakbola Asia: Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan dua negara lainnya adalah Vietnam dan Singapura.

Mengantongi dua kemenangan dan dua hasil imbang, Indonesia pun melaju ke final dengan menyandang status juara Grup A. Pada partai puncak, Indonesia bertemu Burma (Myanmar). Duel kedua tim berjalan sengit.

Setelah melewati 90 menit waktu normal dan 30 menit waktu ekstra, kedudukan tetap bertahan 0-0. Akhirnya Indonesia dan Burma pun dinyatakan keluar sebagai juara bersama di ajang tersebut.

Enam tahun berselang pemuda-pemuda Indonesia kembali tampil impresif di ajang yang sama. Hanya saja, mereka gagal membawa pula Piala usai digebuk 0-3 oleh Thailand di laga puncak.

Pada 1970, lagi-lagi Indonesia sukses menembus final di ajang itu. Namun nasib buruk masih enggan beranjak. Burma mengandaskan perlawanan Indonesia dengan tiga gol tanpa balas.

Langsung Berbenah

Euforia keberhasilan Indonesia menekuk Korsel dan melaju ke putaran final Piala Asia 2014 tentu masih sangat dirasakan para pemain serta jajaran staf pelatih. Tapi hal itu diharapkan jangan membuat mereka terlarut. Misi lebih berat dan target besar sudah terlanjur dicanangkan.

Sebagai arsitek tim, Indra Sjafri pun sangat paham akan hal tersebut. Karenanya dia kini akan langsung menyusun langkah untuk menjadikan Garuda Jaya semakin kuat.

Sama seperti sebelumnya, Indra dengan dukungan BTN menjari bakat-bakat lain untuk bergabung dengan Timnas U-19.

Selanjutnya, Indra menegaskan pihaknya masih harus melakukan diskusi dengan Badan Tim Nasional (BTN) mengenai jadwal seleksi dan pemusatan latihan jelang turnamen tersebut.

“Jelang Piala Asia U-19 2014, kami akan kembali membuka seleksi dan pemusatan latihan. Waktu dan tempat masih belum ditentukan, tergantung hasil diskusi dengan BTN,” ujar Indra.

Indra juga menjelaskan bahwa sistem promosi-degradasi pemain di skuad Timnas U-19 tetap diberlakukan dalam pemusatan latihan mendatang. Itu berarti, tidak ada jaminan bagi siapapun, termasuk pemain kunci seperti Evan Dimas, untuk bertahan di skuad utama.

“Bahkan kalau Evan mengalami penurunan permainan bisa kami coret. Begitu pula dengan pemain-pemain kunci lain seperti kiper Ravi Murdianto,” tegas Indra.

“Kami memilih pemain dengan kualitas yang tinggi. Ada empat aspek yang harus dipenuhi oleh para pemain, mulai dari fisik, kecerdasan, mental, hingga teknik. Semuanya harus sesuai standar,” sambungnya.

Performa apik di fase kualifikasi, sejarah baik di pentas Piala Asia U-19 dan persiapan matang yang tengah disusun tim pelatih, adalah tiga modal berharga yang dimiliki Garuda Jaya. Seperti kata kapten tim Evan Dimas, “Hanya Tuhan yang tak bisa dikalahkan,” selama hayat masih di kandung badan, pemuda-pemuda harapan bangsa ini tetap punya peluang untuk meretas mimpinya menuju pentas tertinggi dunia. Terus berjuang Garuda Jaya!

sumber: viva