main stadiumMenyaksikan main stadium sekarang seperti menyaksikan monumen megah yang merana dan tinggal menunggu nasib. Sampai sekarang bangunan yang seharusnya bisa menjadi ajang berbagai even olahraga terutama pertandingan sepak bola, nasibnya tak kunjung jelas.

Stadion yang menjadi tempat pagelaran utama PON XVIII itu, saat ini ‘tidur nyenyak’ dan kesepian karena nyaris tak digunakan untuk kegiatan apapun. Padahal untuk membangun stadion megah tersebut butuh biaya sangat besar, lebih dari Rp800 milyar!

Dibangun secara multiyears sejak tahun 2009 lalu, main stadium memiliki luas bangunan 7,4 hektare dibangun di atas lahan seluas 66,4 hektare dengan kapasitas 43 ribu tempat duduk.

Segmennews.com yang mengunjunginya baru-baru ini, melihat area di sekitar stadion layaknya daerah tak bertuan. Rumput dan tanaman semak berduri sudah meninggi di mana-mana. Di sudut-sudut stadion, termasuk di area dalam dan di lapangan rumput, rumpu liar tumbuh subur. Terlihat tak ada perawatan.

Bahkan di salah satu bagian akses jalan di sebelah kiri stadion, tepatnya dekat jembatan, tanahnya longsor meninggalkan lubang menganga berdiameter 5 meteran.

Saat ini di setiap pintu masuk dipasang pagar besi oleh pihak kontraktor atau KSO (pembangunan main stadium ini dilaksanakan secara konsorsium oleh tiga perusahaan BUMN yakni PT Pembangunan Perumahan, PT Adhi Karya, dan PT Wijaya Karya). Untuk bisa mendekat stadion harus bisa melewati pagar tersebut. Selepas pagar pertama, masih ada lagi pagar kedua yang dipasang mendekat stadion.

Beberapa orang yang tampaknya penjaga stadion terlihat mengamati setiap orang yang masuk mendekat ke area stadion.

Seperti diketahui, main stadium sudah lama tidak digunakan. Stadion terakhir kali digunakan saat babak kualifikasi Grup E Piala Asia atau Asian Football Confederation (AFC) U-22 Championship 2013, 5-15 Juli 2012. Artinya, sudah 14 bulan lebih menganggur.

Pihak konsorsium terutama melarang Pemprov Riau menggunakan stadion tersebut sebelum pembayaran selesai. Pemprov menurut pihak KSO masih belum membayar kekurangan biaya pembangunan sekitar Rp184 milyar. Gara-gara ini pula perhelatan Islamic Solidarity games (ISG) yang rencananya akan digelar di Pekanbaru dibatalkan dan dipindah ke Kota lain. Pihak KSO bahkan sempat menggembok pintu masuk stadion dan melarang rombongan panitia besar ISG yang akan meninjau kesiapan Riau menjadi tuan rumah ISG.

Maka, sebelum pembayaran selesai, bisa dipastikan stadion megah tersebut akan terus menganggur dan tidak terawat. Lantas, bagaimana nasib main stadium selanjutnya dan bagaimana dengan badan pengelola yang sempat mencuat?

Ketua Komisi D DPRD Riau Bagus Santoso mengaku prihatin terhadap nasib main stadium. Dewan menurutnya sudah mendesak Pemprov untuk segera membentuk Badan Pengelola aset Pemprov. Karena banyak sekali aset Riau termasuk veneus PON XVIII dan main stadium yang dibangun dengan biaya APBD yang mencapai angka trilyunan sekarang tidak terawat dan terancam mengalami kerusakan. Jika dalam jangka panjang dibiarkan tidak terawat, maka aset aset ini akan menjadi beban bagi Pemprov Riau.
Menurut Bagus, ada 3 opsi tentang pengelolaan aset Pemprov ini, yaitu yang pertama pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten dan Kota tempat aset itu berada, opsi yang ke dua adalah diserahkannya pengelolaannya kepada Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD).

Dan opsi yang ke 3 adalah aset aset atau Venues PON ini diserahkan kepada. pihak ke 3, seperti pihak kampus dimana venues itu berada. “Ada tiga alternatif tentang pengelola aset PON ini,” terang Bagus.

Menurut Bagus kendalanya sekarang karena SOTK masih dalam penggodokan di DPRD Riau dalam Prolegda. Karena kan harus ditetapkan bagaimana pelaksanaan teknisnya nanti. “Sekarang sedang digodok bagaimana pelaksanaan teknisnya “

Bagus mengimbau agar Badan Pengelola Aset segera dibentuk dan aset aset PON Riau ini juga aset Pemrov lainnya ada yang mengelola sehingga tidak menjadi rusak dan menjadi beban negara karena apabila tidak terawat dan dimanfaatkan dengan maksimal maka aset aset ini akan menjadi beban daerah seperti. Listrik dan biaya perawatannya. “Karena itu kita harapkan segera terbentuk Badan Pengelola Aset agar venues PON ini bisa dimanfaatkan dengan maksimal sehingga bisa membiayai perawatannya sendiri dan kalau mungkin bisa menambah income bagi Pemprov,” tutup Bagus.

Emrizal akui Main Stadium Tidak Terawat

Sementara Asisten II Bidang Ekonomi Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Emrizal Pakis saat dihubungi membenarkan keadaan main stadium saat ini sangat memperhatikan. “Kita sangat menyesalkan keadaan main stadium tersebut sangat tidak terawat. Dalam hal ini, Pemprov Riau bukannya tidak peduli atas aset daerah tersebut, namun permasalahan pembayaran belum dilakukan. Untuk itu, Pemprov menunggu hasil audit yang dilakukan pada main stadium itu,” sebut Emrizal.

Ditambahkannya, Jika permasalahan tersebut sudah selesai, pastinya Pemprov akan bertanggung jawab terhadap main stadium. Seperti Rumbai Sport Center, dan bangunan aset lainya pemprov terus melakukan perawatan secara berkala. “Hanya Main Stadium saja yang permasalahan ini belum selesai. Insya Allah pada November tahun ini, permasalahan tersebut sudah selesai. Jadi tanggung jawab Main Stadium sepenuhnya milik Pemprov,” ujarnya.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga (Kadispora) Riau, Edi Satria juga mengatakan hal yang sama. “Hingga saat ini, jika bangunan tersebut belum diserah terimakan, maka. Pihak dispora tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ini menyangkut pembayaran yang belum selesai antara Pemrpov Riau dan KSO beberapa perusahaan,” sebut Edi Satria.

Ditambahkannya, jika pembayaran tersebut sudah selesai, pihak Dispora pastinya akan bertanggung jawab atas bangunan tersebut.

Menyangkut audit main stadium yang dilakukan terhadap Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dan hasilnya sedang ditunggu-tunggu, Edi mengaku Pemprov Riau sudah menerimanya. Akan tetapi Edi menolak mengatakan bagaimana hasil audit tersebut.

Edi berkilah dirinya belum sempat mempelajari hasil audit yang menurutnya sangat banyak tersebut. “Saya belum sempat mempelajarinya, nantilah saya kasi tahu (hasilnya),” janjinya. ***(bud/den)