Sabah Auh (SegmenNews.com)- Ladang sumur minyak di Zamrut dan Pedada di Kabupaten Siak pada 1973 dan 1975, diketahui pada massa dikelola PT.Caltek Pasifik Indonesia (CPI) yang sekarang PT. Cevron Pacifik Indonesia (CPI) ternyata pernah mengalami puncak tertinggi, yakni dengan puncak produksinya mencapai 99.000 barel atau BOPD di tahun 1984.

Setelah itu 10 tahun kemudian jumlah produksi didua sumur minyak itu terus mengalami penurunan, dan ditahun 1994 tidak lagi ditemukan ladang atau sumur yang baru dan terpaksa menggunakan sistem water flood atau injeksi air ke perut bumi untuk mengeluarkan minyak tersebut.

Saat itu sumur minyak itu terus dikelola PT CPI, hingga kontrak diperpanjang ditahun 2001, maka di 2002 CPP Block yang dikelola PT CPI itu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak dan dibentuk Badan Operasi Bersama (BOB) PT Bumi Siak Pusako (BSP)-Pertamina Hulu.

Pengambilan minyak dengan cara injeksi air tersebut, ternyata terus dilakukan BOB BSP-Pertamina Hulu hingga saat ini. Dan saat ini jumlah minyak yang dapat dihasilkan di Cam Pedada mencapai 8.000 barel perharinya. Dan hal ini tentunya akan cendrung menurun ditahun berikutnya.

Dikatakan TM.Prod.OPT Pedada Area Erlangga dalam penjelasannya secara singkat tentang sejarah tersebut bahwa, dalam pengolaan minyak akan mengalami proses penurunan apabila tidak ditemukannya ladang atau sumur baru. Dan hal itu juga terjadi pada massa pengelolaan PT CPI, dan hingga saat ini.

“Hal yang bisa apabila mengalami penurunan, saat ini kita hanya menggunakan sistem injeksi air atau water flood di sumur-sumur tua yang kita miliki. Tetapi dalam pengolaan kita penurunan yang terjadi tidak terlalu siknifikan seperti terdahulunya,” terang Erlangga.

Diketahui bahwa BOB BSP-Pertamina Hulu ini memiliki luas lahan sekitar 9,996 Km2, dengan jumlah lapangan 29, dan jumlah sumur 662. Dari jumlah sumur itu yang masih aktif yakni sebanyak 467 sumur, dan tidak aktif 96 sumur, serta sumur yang menggunakan injeksi air 90 sumur, dan Non EOR sebanyak 9 sumur.

Selain itu ditambahkan Nazarudin Manajer External Affair BOB BSP-Pertamina Hulu bahwa, penurunan produksi hampir terjadi di setiap perusahaan minyak apabila tidak ditemukannya ladang atau sumur yang baru atau sistem dan peralatan yang canggih untuk mengeluarkan minyak dari perut bumi.

“Saat ini kita masih menggunakan peralatan yang lama dan sederhana, tetapi penurunan yang terjadi setelah kita ambil alih tidak seperti saat dikelola PT CPI, kita bisa mempertahankan walau sedikit ada penurunan,” terang Nazaruddin.***(rinto)