Banjir di jalan antara Monas dan Istana Negara (Antara/ Fanny Octavianus)
Banjir di jalan antara Monas dan Istana Negara (Antara/ Fanny Octavianus)

SegmenNews.com– Awal 2014, Jakarta kembali dikepung banjir. Berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasi banjir, salah satunya dengan perbaikan rumah pompa yang ada di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara. Pompa tersebut mengalirkan air langsung dari Waduk Pluit ke laut.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, mengatakan di rumah pompa Muara Baru, total ada tujuh pompa yang disiagakan. Empat di antaranya adalah pompa lama yang sudah diperbaiki dan tiga lainnya pompa baru.

“Jadi ini ada tujuh pompa. Empat difungsikan, tiga lagi belum. Ini cukup sedot air dari Waduk Pluit ke laut,” kata Jokowi di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin, 13 Januari 2014.

Jokowi memastikan tujuh pompa itu sudah cukup mengalirkan air. Kata Jokowi, itu dilihat dari kondisi Kali Pakin, Jakarta Utara yang masih surut. Padahal, sebelumnya, hujan sebentar saja langsung meluap.
Jika Kali Pakin surut, diharapkan air yang mengalir ke Istana Negara bisa dialihkan melalui kali itu. Dari sana, air langsung menuju ke Waduk Pluit. Kemudian di buang ke laut.

“Tadi, lihat di Kali Pakin airnya habis sampai ke dasar. Oleh sebab itu yang di Jembatan Merah akan dibuka pintunya sehingga masuk ke Kali Pakin lalu ke rumah pompa Waduk Pluit,” katanya.

Jokowi menambahkan, secara teknis manajemen air untuk menyelamatkan Istana Negara yakni dengan membuka Pintu Air Manggarai, kemudian mengalirkannya ke Pintu Air Jembatan Merah, Pintu Air Ancol lalu muaranya di Waduk Pluit.

“Yang jelas kalau air dari Manggarai itu dibuka maka akan masuk ke rumah pompa Waduk Pluit, yang kanan kiri Istana sebagian masuk ke Jembatan Merah. Sebagian dilarikan ke Ancol, dan sebagian dilarikan ke Pluit lalu dibuang ke laut semuanya.”

Sementara itu, operator penanggung jawab rumah pompa Waduk Pluit, Joko, menuturkan bahwa pengoperasian tujuh pompa di Waduk Pluit disesuaikan dengan ketinggian air di waduk tersebut. Menurut Joko, saat ini ketinggian muka air di Waduk Pluit minus 165 cm di bawah ± 0 cm.
Sehingga yang dioperasikan hanya empat pompa. Namun, jika ketinggian Waduk Pluit di atas normal atau di atas plus 200 cm, maka segera dioperasikan semuanya.

“Sekarang yang diopersikan hanya empat karena ketinggian Waduk Pluit masih normal. Kalau sudah di atas normal, baru dioperasikan semuanya. Yang penting ketinggian air tetap dijaga,” kata dia.

Tujuh pompa itu memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Empat pompa lama mempunyai daya sedot air 4,3 meter kubik per detik. Sedangkan tiga pompa baru memiliki daya sedot 6 meter kubik per detik. “Kalau kapasitas totalnya tinggal dikalikan saja sendiri,” ujarnya.***

sumber: vivanews