ilustrasi
ilustrasi

SegmenNews.com- Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, membantah klaim bahwa personel militernya memukuli dan menyiksa imigran gelap yang coba masuk ke perairan Negeri Kanguru. Untuk membuktikan tuduhan tersebut, Canberra mengatakan siap bekerja sama dengan Indonesia.

“Siapa yang Anda percayai? Apakah percaya personel Angkatan Laut atau orang-orang yang berusaha menerobos hukum Australia?” kata Abbott di Davos, Swiss, dilansir Sydney Morning Herald (SMH).

Pemimpin Partai Buruh ini menambahkan para pencari suaka harus dapat menunjukkan bukti untuk mendukung tuduhan itu. Namun, ujar Abbott, hingga kini tidak ada bukti apa pun yang ditunjukkan para pencari suaka.

Bantahan serupa telah disampaikan berkali-kali oleh Menteri Imigrasi dan Perbatasan, Scott Morrison. Rabu ini, Morrison kembali membantah dengan mengatakan bahwa tuduhan itu tidak berdasar dan sengaja diangkat untuk menyerang pemerintah.

Menteri Luar Negeri Julie Bishop dari Washington DC juga turut membantahnya. Bishop mengatakan bahwa Australia siap bekerja sama dengan Indonesia untuk menyelidiki tuduhan itu.

“Saya tidak dapat membayangkan bahwa personel AL kami yang profesional dapat melakukan hal semacam itu. Namun, tentu saja apabila ada kerja sama yang dapat kami jalin untuk memastikan bahwa tuduhan itu tidak berdasar, kami siap melakukannya,” ujar Bishop.
Luka Bakar
Tuduhan ini muncul setelah patroli Angkatan Laut Australia menggiring kapal pencari suaka ke pulau Rote di Indonesia awal Januari lalu. Beberapa pencari suaka yang diwawancara ABC News mengaku dipukuli dan dihinakan selama dalam penggiringan.

Dalam tayangan ABC, diperlihatkan tangan mereka yang terluka bakar. Mereka mengaku dipaksa memegang pipa panas hanya karena izin ingin ke toilet. Saat ini mereka tengah menjalani pengobatan.

Kepala penyidik di kepolisian Kupang Sam Kawengian kepada ABC mengatakan bahwa menyelidiki kasus ini dan telah mengundang otoritas Australia berkunjung ke Kupang dan menyaksikan sendiri bukti-buktinya.***

sumber:viva