Kecanduan Lem, Remaja ini Dirantai Ayah Kandung
Kecanduan Lem, Remaja ini Dirantai Ayah Kandung

Pontianak (SegmenNews.com)- Remaja usia belasan itu duduk tertunduk diam. Warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, itu terpaksa dirantai oleh ayah kandungnya karena kebiasaan menghirup lem.

Remaja laki-laki ini mengaku mengenal kegiatan mengelem sejak duduk di kelas 3 sekolah dasar. Malangnya, kegiatan yang kini menjadi kebiasaannya itu mengubah hidupnya dan berdampak pada kesehatan tubuh anak usia 16 tahun itu.

“Kalau tidak mengelem, badan saya bergetar,” tuturnya saat ditemui VIVAnews di kediamanya, Rabu 22 Januari 2014.

Ayahnya yang berusia 52 tahun kini mengaku terpaksa merantai anak itu lantaran sulit dicegah mengelem. “Sebulan dapat perawatan rehabilitasi di Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT) Kota Pontianak. Dia hanya ditampung saja di sana. Waktu itu sih gratis. Tapi, nggak sembuh juga,” ungkapnya.

Sang ayah menuturkan, pada Selasa kemarin, ia sempat membawa anaknya berobat ke sebuah rumah sakit jiwa di Kota Pontianak. Satu malam bocah itu menginap di sana, namun terpaksa dipulangkan lantaran tak punya biaya.

“Tadi malam dia menginap di RSJ. Hari ini pulang lagi, karena nggak ada tanggungan biaya dari pemerintah. Saya hanya disuruh beli obat saja Rp68 ribu. Dokternya pesan, kalau obatnya (timbulkan) alergi, jangan diminum. Habis obat ini harus ke sana lagi beli obatnya. Mana saya mampu,” ucap pedagang sayur itu lirih.

Sehari-hari, sang ayah berkeliling ke daerah Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, untuk menjajakan sayuran. Ia mulai bekerja sejak pukul 03.00 pagi hingga petang.

Kesibukan sang ayah mencari nafkah untuk keluarga, membuatnya jarang bertemu dengan sang anak. Kegiatan putranya sehari-hari pun luput dari perhatiannya, sehingga ia terlambat mengetahui kebiasaan buruk anaknya.

Dikirim ke Jakarta

Dia pernah membawa anaknya itu ke Jakarta pada 2013 lalu untuk menempuh pendidikan. “Ternyata di Jakarta juga mengelem. Saya bawa lagi ke Pontianak. Saya bawa lagi ke rehabilitasi, tapi nggak ada perubahan juga. Perubahannya sedikit saja. Malahan ketagihan terus dia mengelem,” tuturnya.

Ia terpaksa mengikat kaki anak keempatnya ini dengan rantai dengan niat memberi pelajaran agar anaknya tidak mengulangi perbuatannya kecanduan lem. Kecanduan lem yang diderita anaknya terlalu parah sementara ia tak memiliki biaya pengobatan untuk membawa anaknya ke dokter.

“Jangankan untuk biaya berobat, untuk makan sehari-hari saja susah. Kalau harga berobatnya mahal, jujur, saya tak mampu. Saya kan setiap harinya berdagang, kadang untung, kadang tekor pula. Sampai saat ini nggak ada bantuan,” katanya.

Bahkan, ia menceritakan, anaknya pernah ditangkap Polisi karena ulahnya. “Dua kali dia ditangkap sama Polisi. Dia menginap di Polsek. Tapi, tak takut juga,” ucapnya.

Dia mengatakan, sesungguh ia tak tega merantai anaknya sendiri. Namun, ini terpaksa dilakukan agar anaknya tak mengganggu orang lain saat mabuk lem.

“Dari pada anak saya mengganggu orang lain dan mengelem terus, lebih baik dirantai. Dirantai itu dijaga, bukan ditinggal. Yang jaga itu neneknya setiap hari,” katanya.

Ibu kandungnya yang berusia 43 tahun mengaku anaknya itu termasuk pintar di sekolahnya. Akan tetapi, karena pengaruh candu lem, dia kerap tinggal kelas.

“Nilai-nilai dia bagus. Dulunya badannya gemuk. Sekarang malah kurus. Itulah akibat mengelem semakin kurus. Saya sedih, anak saya tak bisa diterima sekolah-sekolah yang ada di Kota Pontianak. Anak saya dua tahun tak naik akibat banyak mengelem,” kata sang ibu.

Kini dia dan suaminya berharap dinas kesehatan setempat dapat memberikan bantuan pengobatan gratis untuk anaknya agar dapat segera sembuh dari candu lem.***

sumber:viva