Operasi penyelamatan penumpang di kapal feri Sewol di lepas pantai Jindo, Korea Selatan. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Operasi penyelamatan penumpang di kapal feri Sewol di lepas pantai Jindo, Korea Selatan. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

SegmenNews – Tim SAR gabungan yang berupaya mengevakuasi jasad penumpang kapal feri Sewol terkejut, karena menemukan 48 jasad perempuan masih mengenakan jaket penyelamat.
Pemandangan miris ini menjadi bukti nyata, betapa mereka mematuhi perintah anggota kru untuk tetap diam dan mengenakan jaket penyelamat.

Dilansir dari stasiun berita CNN, Jumat 25 April 2014, jasad mereka ditemukan di Laut Kuning. Sebanyak 48 jasad itu ditemukan berada di satu ruangan yang sebenarnya hanya mampu memuat 30 orang.

Kendati kecil kemungkinan masih ada penumpang yang selamat, namun satgas penyelam masih tetap memilihara harapan itu.

Tapi upaya mereka untuk mengevakuasi jasad terhalang tumpukan objek melayang, pintu-pintu yang tertutup karena adanya tekanan air yang besar dan arus yang menarik tabung gas para penyelamat.

Salah satu penyelam dari kalangan sipil, Chun Kwan-geung, mengatakan salah satu penyelamat terpaksa bekerja dalam keadaan air yang keruh, memecahkan kaca untuk bisa menuju ke dek kapal di bagian bawah. Saat ini dek bagian bawah berada di dasar lautan yang kedalamannya mencapai 73 meter.

“Upaya penyelamatan kian melambat,” ujar Kapten Angkatan Laut, Kim Jin-hwang, komandan dalam operasi penyelamatan.

Para penyelam, lanjut Jin-hwang, telah mencari ke seluruh area kapal yang dapat diakses.

“Namun, tim penyelam memperkirakan pencarian akan bertambah sulit karena adanya kenaikan ombak dan cuaca kian memburuk. Tetapi, AL tidak akan berhenti hingga jasad terakhir ditemukan,” tutur Jin-hwang.

Kini, para penyelam Jin-hwang tengah berupaya menemukan jalan menuju sebuah ruangan yang mirip dengan asrama. Di sana diduga terdapat 50 jasad pelajar perempuan yang terjebak saat kapal mulai tenggelam.

Otoritas Korea Selatan juga memperkarakan hukum peristiwa ini. Akibatnya, polisi menahan kapten kapal dan lebih dari puluhan anggota kru.

Selain itu, para penuntut di Mopko, Korsel, tengah menyelidiki apa yang menyebabkan kapal tenggelam. Sejauh ini, teori yang berkembang termasuk perubahan yang membuat kapasitas kapal feri dan kargo terus meningkat.
Fasilitas Rusak
Penyelidik juga memeriksa kapal lainnya yang dioperasikan perusahaan itu. Kapal bernama Ohamana ternyata memiliki 40 fasilitas kapal penyelamat tidak berfungsi.

Jalur untuk berseluncur agar para penumpang dapat turun dengan selamat, tidak berfungsi dan peralatan untuk mengikat mobil serta kargo tidak ada.

Seperti kapal Sewol, kapal Ohamana telah dimodifikasi untuk lebih banyak agar banyak penumpang.

Kapal itu tiba di Incheon pada tanggal 16 April 2014, haru yang sama di mana Sewol tenggelam. Pejabat Korsel lainnya masih belum menyimpulkan hal itu.

Hingga saat ini tim SAR gabungan telah mengevakuasi 185 jenazah. Sementara 117 penumpang dinyatakan hilang. Walaupun hingga saat ini belum ada jenazah lainnya yang berhasil dievakuasi.***

 

Red: Son/has
sumber: © VIVA.co.id