6oRokan Hulu (SegmenNews.com)- Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, menyatakan bahwa para ustadz, muballigh, dan ulama harus rajin menulis, sebab menulis adalah budaya para ulama terdahulu dan yang lebih penting dari itu lagi, tulisan lebih tajam daripada ujung pistol.

Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, di kantornya, Jalan Ikhlas KOmpleks Perkantoran Pemerintah, Kota Pasir Pengaraian. Dikatakannya, kita mengenal Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali, dan lainnya, disebabkan mereka menulis, jika tidak tentulah kita tidak mengenal mereka.

Ahmad Supardi mengutif ucapan Sayyid Quthub, “Jika satu perluru hanya bisa menembus satu kepala saja, maka dengan menulis dapat menembus berjuta – juta kepala.” Inilah yang menjadikan aktivis yang satu ini rajin menulis.

Bahkan ketika dipenjara sekalipun, Sayyid Quthub tidak pernah berhenti dari kebiasaan nya untuk menulis. Meski raga dikekang oleh jeruji besi, namun ilmu tetap menyebar seperti angin yang berhembus ke tiap daerah hunian manusia. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah kita Tafsir fi zilalil qur’an.

Ahmad Supardi lebih lanjut menyatakan, tulisan adalah salah satu cara untuk mengikat sebuah ilmu pengetahuan. Seorang penulis memang tak akan abadi di dunia ini, sehingga jika ia telah tiada maka ilmu yang dimilikinya pun akan tiada. Namun itu berbeda dengan para penulis, meski mereka telah tiada akan tetapi ilmu mereka akan tetap abadi dan menjadi amal yang tak pernah putus bagi si penulis.

Itu pula lah hal yang sering dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Imam Bukhari yang rela berjalan puluhan kilometer hanya untuk mencari satu hadits saja. Tujuannya adalah agar para generasi masa depannya nanti mampu mengenal amal – amal yang dilakukan Rasulullah, tandasnya.

Ahmad Supardi juga menyatakan, dengan keterbatasan waktu dan tempat yang dimiliki seseorang, tak mungkin bagi dirinya bisa berada di berbagai tempat dengan waktu yang sama. Akan sulit juga bagi seseorang untuk menyampaikan ilmunya ke suatu daerah yang jauh jika harus langsung datang kesana langsung.

Namun dengan sebuah tulisan, ilmu tersebut dapat tersampaikan meski waktu yang dimiliki terbatas dan juga jarak yang jauh. Karena ilmu tersebut berubah bentuknya menjadi sederhana dan dapat dilipatgandakan, tegas Ahmad Supardi.***(acce)