Gua Jepang di Aceh. (VIVAlife/Zulfikar HuseinZulfikar Husein (Lhokseumawe))
Gua Jepang di Aceh. (VIVAlife/Zulfikar HuseinZulfikar Husein (Lhokseumawe))

SegmenNews.com– Meski masa penjajahannya di Indonesia telah berakhir, Jepang masih menyisakan jejak kekejaman. Salah satunya, gua di Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Aceh.

Di masa lampau, gua itu merupakan buatan masyarakat Aceh yang diperkerjakan secara paksa tanpa bayaran oleh tentara Jepang, atau disebut romusa. Hingga kini, gua itu masih berdiri kokoh di Aceh.

Struktur dan tekstur tanah yang keras dan berbatu membuat gua tetap kuat. Sudah lebih dari 65 tahun Indonesia merdeka, gua itu masih berdiri seperti awal mula jadinya.

Gua tersebut, yang disebut masyarakat sekitar sebagai Gua Jepang, merupakan satu dari 17 gua dan delapan benteng pertahanan yang dibangun selama masa penjajahan Jepang di Indonesia.

Pertama memasuki Gua Jepang, tergambar jelas bagaimana penderitaan para romusa kala itu. Membuat lubang besar di bawah permukaan tanah, memang bukan perkara mudah.

Gua memiliki tiga pintu. Di dalamnya, terdapat beberapa sekat yang menyerupai ruang atau kamar.

Sebagian ruang itu mengarah ke bawah, sebagian lagi ke atas. Bagian dalamnya tampak gelap gulita. Cahaya matahari hanya mampu mencapai sekitar lubang yang dijadikan pintu masuk gua.

Sebelum konflik Aceh di era 1990-an, Gua Jepang menjadi destinasi wisata. Warga sering menaiki deretan perbukitan di daerah itu. Selain melongok ke dalam gua, mereka juga menikmati pemandangan alam di atasnya.

Samudera Hindia yang luasnya seolah tak terbatas, bisa disaksikan lepas dari atas perbukitan. Begitu pula, tanaman dan pepohonan yang kini dijadikan areal pertanian masyarakat. Hijaunya memukau.

guaPengunjung juga bisa melihat betapa besar salah satu perusahaan gas internasional yang diresmikan oleh Presiden Soeharto, PT Arun NGL, di kawasan itu.

Konflik Aceh sempat memenjarakan keinginan warga yang hendak menikmati keelokan wisata sejarah tersebut. Lokasi gua sering dijadikan lokasi lalu-lalang TNI maupun pihak separatis.

Namun kini, usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara gerakan separatis dan pemerintah Indonesia, asa masyarakat untuk kembali menikmati Gua Jepang kembali terbit.

“Saat konflik, tidak berani ke sini. Sekarang sudah bisa naik ke sini lagi. Selama ini, banyak pengunjung yang datang, termasuk kami yang rumahnya di sekitar sini,” ujar Novi Yanti, seorang warga di kaki perbukitan desa Blang Panyang, Lhokseumawe kepada VIVAnews, Minggu 1 Juni 2014.

Kini, objek wisata sejarah itu kembali ramai dikunjungi warga. Pada hari-hari libur, Gua Jepang juga dikunjungi berbagai pengunjung dari luar daerah.

Sayangnya, gua itu belum dikelola secara baik. Tidak ada pemandu wisata yang bisa menjelaskan soal nilai histori. Dinas Pariwisata Lhokseumawe baru membangun gerbang masuk tepat di depan mulut gua, dua tahun lalu. Hingga kini, belum ada pemugaran lainnya.***

 

 

 

Red: Sondri
sumber: © VIVA.co.id