karimunSegmenNews.com – Pengusaha mobil di Tanah Air mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap terlalu rendah memberikan plafon harga mobil low cost green car (LCGC). Pasalnya, ada beberapa faktor yang membuat harga batas atas kendaraan ini tak lagi sesuai.

Kritik salah satunya datang dari Komisaris PT Suzuki Indomobil Motor, Subronto Laras. Ia meminta pemerintah segera merevisi plafon harga LCGC.

Katanya, harga mobil murah yang maksimal dibanderol Rp95 juta off the road (OTR) sebelum pajak, dipandang tak lagi sesuai. Faktor nilai tukar menjadi salah satu penyebabnya. “Kalau saya lihat, pemerintah harus rasional melihat kenyataan ini,” kata Subronto di Suzuki Tambun Plant-Area External, Bekasi, Kamis 5 Juni 2014.

Dia menyebutkan faktor nilai tukar rupiah, inflasi, dan biaya produksi bisa mempengaruhi harga mobil itu. Kenaikan UMR 30 persen pun juga turut menyumbang alasan plafon harga LCGC selayaknya direvisi. “Istilahnya, jika ‘ditelanjangi’ begitu, mungkin pada rugi,” kata dia.

Subronto mencontohkan harga LCGC maksimal Rp95 juta. Apabila dipotong 10 persen untuk biaya distribusi, harganya menjadi sekitar Rp80 jutaan. Angka tersebut dirasa belum mampu menutup biaya produksi mobil itu. “Tolonglah pengertian pemerintah. Jangan dikunci di Rp95 juta,” sambungnya.

Kendati komponen mobil LCGC 80 persennya merupakan produksi lokal, namun ada bahan baku mobil yang dipasok dari luar negeri. Belum lagi nilai tukar rupiah yang tren-nya melemah.

“Misalnya plastik. Bemper mobilnya plastik. Dashboard-nya plastik. Kami beli bahan bakunya di mana? Ada yang jual dengan rupiah? Tidak ada, kan?” tegasnya.***

 

 

Red: Sondri
sumber: © VIVA.co.id