Red Light District. ©2014 Merdeka.com/Wisnoe Moerti
Red Light District. ©2014 Merdeka.com/Wisnoe Moerti

SegmenNews.com-  Tidak hanya pertandingan olah raga saja yang bisa disaksikan secara langsung, persetubuhan lelaki dan perempuan pun bisa disaksikan secara langsung di kawasan prostitusi di pusat Kota Amsterdam.

Kawasan lampu merah atau lebih tersohor dengan sebutan Red Light District tidak hanya dihiasi pelacur dalam kaca layaknya ikan di akuarium, tapi juga menyediakan wisata maksiat lainnya yakni pertunjukan porno dan bisa disaksikan secara langsung.

Pemerintah kerajaan Belanda sangat liberal soal pelacuran. Prostitusi dilegalkan secara hukum. Karena itu ada aturan hukum yang mengikat pekerja seks. Mulai dari batasan usia hingga kewajiban mengikuti test kesehatan.

Tidak hanya itu, mereka juga wajib membayar pajak cukup tinggi. Pelacurnya ada izin khusus dan mereka bayar pajak atas pekerjaan mereka. Mereka bayar 33 persen (dari pendapatan) tapi dijamin dari perawatan juga, ujar Burhan, warga Belanda keturunan Indonesia, saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu.

Model pelacur di kawasan ini pun beragam. Mulai dari berambut pirang, rambut hitam terurai, berbadan kurus atau gemuk, berwajah Eropa hingga Asia. Semua tersedia tergantung keinginan lelaki hidung belang. Sepanjang jalan banyak perempuan nakal (pelacur), katanya.

Di kawasan ini, ada dua jalan yang dipisahkan sungai dengan air tenang. Sepanjang mata memandang, baik di kanan maupun kiri jalan, berjajar rumah-rumah prostitusi pemuas syahwat. Salah satu keunikan dari Red Light District, pelacur tidak menjajakan diri di tepi jalan, melainkan di dalam ruangan kaca di rumah tersebut. Mereka menjajakan diri seperti dagangan di sebuah etalase kaca toko. Layaknya ikan hias dalam sebuah akuarium. Untuk menarik perhatian, mereka tampil nyaris telanjang. Hanya berbalut bra dan celana dalam untuk menutupi tubuh mereka.

Tentu saja ini menarik perhatian setiap orang yang melintas di kawasan itu. Dari balik kaca, perempuan berambut pirang dengan bra dan celana dalam warna merah jambu, bergoyang mencari perhatian pengunjung, mengumbar birahi. Tatapannya nakal menggoda setiap mata lelaki yang melintas di depannya. Bila pengunjung tidak melihat ke arahnya, tanpa ragu dia mengetuk kaca berharap pandangan pengunjung mengarah pada dirinya.

Tarif pelacur di Red Light District cukup menguras kantong. Tapi tergantung negosiasi sebelum transaksi. Salah satu pelacur di kawasan itu membanderol harga sekitar 80 Euro atau sekitar Rp 1.279.000. Tarif itu masih bisa dinego. Tawar menawar hal lumrah dalam sebuah transaksi, termasuk transaksi pemuas syahwat. Itu untuk short time, katanya salah seorang pelacur saat melakukan tawar menawar. Sementara untuk long time, banderolnya bervariasi, bisa menembus di atas 250 Euro atau sekitar Rp 3.995.000.***(son/merdeka.com)