SUSJakarta (SegmenNews.com– Dunia penerbangan Tanah Air mengalami tekanan akibat melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Alhasil maskapai harus mengetatkan ikat pinggang agar beban operasional tidak terus meningkat. Pasalnya mayoritas biaya dan pembiayaan di industri penerbangan berbentuk valuta asing seperti dolar AS, sedangkan pemasukan dalam bentuk rupiah.

Rugi kurs ini dialami juga oleh maskapai lokal seperti Susi Air. Tahun lalu, Susi Air mengalami kerugian yang cukup besar.

“Dengan adanya untung operasional, kita masih rugi kurs sampai Rp 100 miliar. Pokoknya rugi,” tegas pemilik Susi Air, Susi Pudjiastuti, kepada detikFinance di Hotel Hyatt, Jakarta seperti dikutip Senin (23/6/2014).

Rugi kurs juga mengancam Susi Air pada 2014. Untuk menyiasati hal ini, Susi Air melakukan penghematan di berbagai lini.

”Lebih efisien saja. Kalau rugi kurs nggak bisa disiasati, menaikkan tiket bisa tapi sedikit pengaruhnya. Kalau kurs naik terlalu banyak ya susah,” sebutnya.

Terkait rupiah yang terus melemah, Susi Air belum berencana melakukan lindung nilai atau hedging. “Hedging bagaimana? Nggak ada duit buat hedging, itu mahal,” tutur Susi.

Tahun lalu, Susi Air meraup pendapatan sebesar Rp 360 miliar. Pada 2014 diproyeksi ada peningkatan 20%. “Kalau 2014 naik 20% jadi Rp 400 miliar lebih,” ujarnya.

Untuk mendukung rencana bisnis dan menggenjot pendapatan, Susi Air berencana mendatangkan 5-10 pesawat berbagai tipe pada tahun ini. Pesawat yang didatangkan antara lain jenis Cessna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter, hingga Dornier 228-202.

“Kita mendatangkan 5-10 pesawat per tahun. Yang dibidik rata-rata pesawat kecil terus yang gede 1-2 unit. Pesawat gede paling 20 seater. Yang paling banyak jenis Cessna Grand Caravan dan Porter,” paparnya.***

 
Red: Sondri
Sumber: Detikfinance