Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA
Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA

Rokan Hulu (SegmenNews.com)– Kakan Kemenag Rohul Drs H Ahmad Supardi Hasibuan MA, menyatakan bahwa ibadah puasa Ramadhan yang saat ini dilaksanakan umat Islam di seluruh belahan dunia memiliki dua dimensi penting, yaitu dimensi ritual universal dan dimensi social.

Demikian disampaikan Kakan Kemenag Rohul, ketika memberikan tausiyah pada sholat Zhuhur berjamaah pegawai Kantor Kemenag Rohul, Senin (7/7/2014) bertempat di aula Kemenag Rohul, Kota Pasir Pengaraian.

Dikatakannya, disebut dimensi ritual universal sebab ibadah Puasa Ramadhan merupakan perintah Allah SWT yang bersifat pasti, telah ditentukan tata cara mengerjakannya dan bersifat umum, artinya adalah kewajiban puasa, bukan hanya diwajibkan kepada ummat Muhammad SAW saja, tetapi juga telah diwajibkan kepada ummat-ummat sebelumnya.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada ummat-ummat sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-Baqarah : 183). Perintah ini secara nyata menegaskan bahwa Ibadah Puasa Ramadhan adalah merupakan satu ibadah yang bersifat ritual dan universal.

Menurut Ahmad Supardi lagi, Ibadah Puasa Ramadhan juga mengandung dimensi social, sebab orang yang melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan selama satu bulan penuh akan merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari, sekalipun tersedia makanan yang lezat dan terhidang di depan mata, namun makanan tersebut tidak boleh dimakan sebab akan membatalkan Ibadah Puasa Ramadhan itu sendiri.

Dalam konteks ini, umat Islam bukan hanya diperintahkan bersimpati atas penderitaan orang miskin yang terkadang sehari makan sehari tidak, tetapi umat Islam diperintahkan merasakan langsung atau berempati atas penderitaan mereka, tandas Ahmad Supardi.

Ahmad Supardi menambahkan, dimensi sosial tersebut akan lebih tumbuh lagi dengan kewajiban membayar zakat fitrah, yang diwajibakan terhadap seluruh kaum muslimin di akhir Ramadhan, menjelang terbit matahari 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri).

Zakat Fitrah tersebut diberikan secara ikhlas dan sukarela terhadap fakir miskin dengan tujuan sebagaimana sabda Nabi : “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah guna menyucikan orang yang berpuasa dan ucapan serta perbuatan yang tidak baik dan guna makanan bagi fakir miskin”, tegas Ahmad Supardi.***(acce)