suryaPEKANBARU (SegmenNews.com)- Dari data PLN Riau Kepri, pertumbuhan kebutuhan pelanggan listrik untuk di Riau dan Kepri sudah melebihi batas rata-rata nasional. Saat ini permintaan akan kebutuhan listrik di Riau-Kepri mencapai 12 sampai 15 persen.

Menurut Pengamat Pengamat Energi dan Lingkungan Hidup, Kunaifi ST MSc, sudah saatnya Riau memikirkan beralih ke energi alternaif, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). “Dari segi potensi besar, dan memungkinkan dan sudah terbukti di mana-mana,” ujarnya Selasa (16/09/2014).

Tambah Kunaifi, dalam waktu dekat ini Singapura akan membangun PLTS terapung terbesar di dunia. “Singapura berada di garis bujur dan lintang yang hampir sama dengan kita. Berarti kalau di Singapura bagus di Rau juga bagus,” sebutnya.

Namun untuk menuju ke arah sana dibutuhkan kebijakan serius dari pemerintah daerah. Salah satunya menginvestasikan sebagian besar anggaran untuk pengadaan PLTS yang mahal. “Jelas untuk investasi listrik tinggi. Namun mahalnya di sini sebenarnya di mahal-mahalkan,” ujar Kunaifi.

Maksudnya PLTS terkesan mahal sebab selama ini listrik dari PLN yang dibangkitkan menggunakan batubara dan minyak disubsidi pemerintah. “Subsidi itu boleh. Namun kita saat ini punya dua pilihan, tetap memakai pembangkit energi dari minyak dan batubara yang merusak lingkungan atau memakai energi terbarukan yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Energi alternatif PLTS tersebut bisa menjadi salah satu jalan keluar untuk Riau mengatasi krisis listrik untuk jangka waktu yang panjang. Tentunya sambil menyelamatkan lingkungan. “Dengan potensi yang besar itu, jika kebijakan masih berorientasi pada batubara dan minyak bumi yang merusak lingkungan. Sedangkan di Jerman, Spanyol, Inggris sudah duluan, dan kita selamanya akan jadi penonton,” harapnya.(btp/ran)