Sebuah perahu melintas ditengah kabut asap dampak kebakaran lahan dan hutan yang menyelimuti kawasan sungai Siak di Pekanbaru, Riau, Sabtu (11/10). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Sebuah perahu melintas ditengah kabut asap dampak kebakaran lahan dan hutan yang menyelimuti kawasan sungai Siak di Pekanbaru, Riau, Sabtu (11/10). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Pekanbaru (SegmenNews.com)- Riau tertutup kabut asap, Minggu, 12 Oktober 2014. Saking pekatnya, jarak pandang benar-benar pendek. Daerah terparah adalah Kabupaten Indragiri Hulu, jarak pandang hanya 50 meter. Kondisi ini membuat Bumi Melayu itu terlihat seperti kota mati.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), secara umum seluruh daerah di Riau tertutup kabut asap. Tak hanya di Indragiri Hulu, kondisi yang  sama juga terjadi hampir di seluruh kabupaten dan kota.

Lihat saja di Kota Pekanbaru, jarak pandang di ibukota provinsi Riau itu hanya 500 meter.

“Begitu juga di beberapa daerah lainnya di Riau, akibat kabut asap yang pekat jarak pandang sangat pendek. Di kabupaten Pelalawan jarak pandang cuma 500 meter. Di Kota Dumai 1.000 meter,” ujar Kepala Bidang Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Agus Wibowo.

Sementara kualitas udara di Riau sudah masuk level “Sangat Tidak Sehat”. Menurut Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa tempat indikatornya sudah menembus  angka 240 PSI. Bahkan sudah ada yang masuk kategori berbahaya.

Kabut asap yang menutupi Riau diakibat kabut asap dari Riau sendiri. Namun seperti disebutkan Agus Wiboyo, kebanyakan karena kiriman dari Sumatera Selatan.

“Hari ini hotspot di Riau hanya ada tiga titik. Sedangkan di pulau Sumatera keseluruhan terdeteksi 153 titik. Provinsi terbanyak hotspot masih di Sumatera Selatan, 144 titik. Sedangkan Aceh ada satu titik, Jambi tiga titik dan Kepulauan Riau dua titik,” ujar Agus.

Ia menambahkan, kecepatan angin 05 – 15 knot bergerak dari Tenggara-Barat menuju ke Barat Laut-Utara.
Red: hasran
Sumber: © VIVA.co.id