Ilustrasi
Ilustrasi

Siak Hulu (SegmenNews.com)-Guru Agama di SMPN 6 Siak Hulu, Kabupaten Kampar, diduga menganiaya tiga siswa kelas II, Alrian, Randi dan wahyu. Akibat perbuatan itu, dua di antaranya tidak masuk sekolah, sementara seorang lagi kembali sekolah setelah 9 hari trauma.

Adanya dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum Guru Agama di SMPN 6 Siak Hulu ini, diungkapkan orasng tua Alrian, kepada segmennewws.com, baru-baru ini. Dikatakannya, kejadian ini bermula ketika anaknya, Alrian, beserta dua temannya, Randi dan wahyu yang duduk di kelas II melihat atribut sekolah, seperti topi berserakan di luar kantor sekolah.

Ketiga anak ini kemudian memasukkan topi tersebut ke dalam kantor. Namun ketika itu salah seorang guru melihatnya dan mencatat nama mereka. Ketiga siswa ini dituduh mencuri dan dilaporkan ke guru bidang studi agama. Saat kegiatan Rohani Islam (Rohis) yang digelar setiap Jumat, ketiga anak itu dipanggil ke depan.

Guru bidang studi agama inipun menampar ketiga murid itu di depan murid lainnya. Akibat perbuatn itu, Rian dan dua temannya merasa malu dan tidak masuk sekolah. Rian tidak masuk sekolah selama sembilan hari. Hari-harinya dihabiskan di warnet.

Namun aksi Rian ini, diketahui oleh salah seorang guru bidang studi olahraga. Ketika melihat Rian di warnet, oknum guru bidang studi olahraga ini kemudian memukul bagian tengkuk belakang Rian dengan kuat. Hal ini membuat terkejut pengunjung warnet yang ada.

Pihak sekolah kemudian memanggil orang tua Rian. “Ketika kami dipanggil itulah kami tahu, mengapa anak kami tidak masuk sekolah. Salah satunya karena merasa malu ditampar di depan siswa lainnya,” ujar ibu Rian.

Bapak Rian yang tidak terima dengan perbuatan oknum siswa itu mengadukannya kepada kepala sekolah, namun hingga saat ini belum ada penjelasan dan sanksi yang diberikan pihak sekolah kepada oknum guru tersebut.

Sementara Kepala SMPN 6 Siak Hulu yang dicoba dikonfirmasi ke sekolahnya Kamis dan Jumat (13-14/11) tidak masuk kerja. Dua wakil kepala sekolah yang ditemui tidak bersedia memberikan penjelasan. “Soal itu harus kepala sekolah langsung yang memberikan penjelasan. kami tidak berani. kalau Sabtu biasanya kepala sekolah juga tidak masuk. Coba hari Senin aja,” ujar dua wakil kepala sekolah tersebut.***(chir)