Ilustrasi
Ilustrasi

Pangkalan Kerinci (SegmenNews.com)- Hingga akhir bulan November 2014 Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Pelalawan menemukan sebanyak 14 warga menderita gizi buruk yang tersebar di 12 kecamatan di kabupaten Pelalawan.

“Sebanyak 14 kasus gizi buruk yang kita tangani sejak Januari hingga November. Korbanya didominasi anak para pekerja perusahaan sekitar 70 persen dan selebihnya masyarakat umum,” ujar Kadiskes Pelalawan dr Endit R Pratiknyo di dampingi Kabid Gizi dr Erizal, Selasa (25/11/14).

Sementara kata Endit dibanding tahun 2013 menurun, karena sebanyak 24 penderita gizi buruk dan di tahun 2012 tercatat 20 kasus gizi buruk, dan yang terjadi merata di 12 kecamatan yang ada di kabupaten Pelalwan. Sedangkan menjelang akhir tahun baru 14 penderita giri buruk.

“Jadi seluruh korbannya sudah ditangani dan telah mengalami pemulihan pasca dirawat di rumah sakit dan dilakukan pemberian makan tambahan (PMT),” ungkap mantan Direktur RSUD Selasih.

Lanjut Endit, bahwa kasus ini banyak ditemukan di kecamatan Bandar Petalangan sebanyak 7 kasus dan Pangkalan Kerinci 5 kasus, selebihnya tersebar dibeberapa kecamatan di kota Bono.

Namun terkiat banyaknya penderita gizi buruk anak para pegawai perusahaan atau buruh perkebunan sawit. Untuk itu, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan Disnakertrans Pelalawan, guna bersama-sama menangani kasus gizi buruk yang terjadi di perusahaan-perusahaan.

“Karena banyak menderita anak pekerja kebun sawit dan warga pendatang. Jadi kami telah bekerjasama dengan Disnakertrans agar bisa menangani kasus gizi buruk yang terjadi di perusahaan-perusahaan tersebut,” bebernya.

Sambungnya, Kadiskes, para penderita kasus gizi buruk yang ada di perusahaan kebanyakan adalah para pendatang bukan masyarakat asli daerah ini. Artinya, dari daerah asalnya memang mereka sudah ada gejala kasus gizi buruk kemudian bekerja di Kabupaten Pelalawan, yang akhirnya kasus ini mencuat di sini.

“Memang kebanyakan yang terkena kasus gizi buruk itu para pendatang yang bekerja di daerah ini. Jadi dari daerah asalnya, mereka sudah terkena gizi buruk dan setelah mendapat laporan langsung kita ambil tindakan untuk mengatasinya,” paparnya.

Ditambahkan Endit, bagi penderita gizi buruk atau lebih dikenal dengan gizi di bawah garis merah, adalah kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Gizi buruk disebabkan karena keadaan kurang gizi karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama.

“Secara kasat mata penderita giri buruk terutama anak-anak dapat dilihat dari berat badan dibanding umur tidak sesuai dan selama 3 bulan berturut-turut tidak kenaikan. Tapi kalau kita cepat mengetahui dapat diatasi dan diantisipasi kedepannya,” pungkasnya.***(fin)