Penandatanganan prasasti monumen Kusuma Bantalo oleh Dandim 0313 KPR Letkol Asep Dedi Darmadi didampingi Komandan Batalyon 132 Bima Sakti Mayor Inf Irwan Harjatmono, bersama Pucuk Adat Kenagarian Pulau Gadang H Sawir Datuk Tandiko, Ketua BPD Pulau Gadang Syofian Datuk Majo di Dusun IV Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar.(foto: ali)
Penandatanganan prasasti monumen Kusuma Bantalo oleh Dandim 0313 KPR Letkol Asep Dedi Darmadi didampingi Komandan Batalyon 132 Bima Sakti Mayor Inf Irwan Harjatmono, bersama Pucuk Adat Kenagarian Pulau Gadang H Sawir Datuk Tandiko, Ketua BPD Pulau Gadang Syofian Datuk Majo di Dusun IV Desa Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar.(foto: ali)

Kampar(SegmenNews.com)- Komandan Kodim 0313/KPR, Letnan Kolonel Inf, Asep Dedi Darmadi SIp saat pendirian kembali sekaligus melakukan peresmian Monumen Kusuma Bantalo di Desa Pulau Gadang, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar mengingatkan kepada para generasi muda harus mengerti perjalanan bangsa sekaligus sejarah perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan yang penuh dengan tumpah darah.

Para generasi juga harus menghormati perjuangan para pahlawan terdahulu. Monumen Kusuma Bantolo merupakan salah satu bukti sejarah perjuangan masyarakat dan para tentara dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Banyak cerita dibalik pendirian monumen Bantolo yang mesti dipelajari oleh generasi.

Ketua BPD Pulau Gadang, Syofyan Datuk Majo Sati mengisahkan peristiwa berdarah dan Cerita dibalik monumen tersebut. Monumen ini didirikan warga Pulau Gadang puluhan tahun lalu untuk mengenang pengorbanan nyawa dari pasukan Indonesia dan masyarakat pada peristiwa berdarah yang terjadi pada tanggal 4 Maret tahun 1949.

Saat itu Mobiele Brigade Kepolisian Keresidenan Riau dipimpin oleh Inspektur Polisi TK I Hoemala Silalahi bermarkas di Dusun Koto Masjid Desa Pulau Gadang, terlibat pertempuran hebat di Rantau Berangin (sekarang Desa Merangin Kecamatan Kuok-red) yang menewaskan 11 prajurit mobile brigade.

Mereka dimakamkan di makam pahlawan Kesuma Bantolo kala itu. Lalu makam itu dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Dharma Pekanbaru pada tahun 1968. Dalam perang kemerdekaan II, dalam agresi II, Belanda melakukan penyerangan ke Riau dari dua jurusan yaitu, dari laut yang dipimpin oleh Kolonel Tebel dengan dua kekuatan dari Batalyon yang berangkat dari Tanjung Pinang.

Kemudian dari jurusan darat Belanda datang dari arah Payakumbuh yang dilanjutkan ke Muara Mahat dengan kekuatan pasukan yang terdiri dari pasukan VETP. Pada tanggal 27 Desember 1948 Belanda berhasil menduduki Bangkinang dan pada sore harinya langsung menduduki Pekanbaru.

Pihak militer di Riau telah menduga bahwa Belanda akan menyerbu Riau dari arah Sumatera Barat maka menurut perkiraan semula tentara-tentara di Sumatera Barat bisa membendung serbuan Belanda dalam rangka gerak maju militernya.

Dan untuk mengenang perjuangan para pahlawan maka didirikanlah Monumen Kusuma Bantolo sekitar tahun 1970 an. Namun seiring berjalannya waktu, Monumen tersebut tenggelam karena proyek pembangunan bendungan PLTA Koto Panjang yang juga menenggelamkan Desa Pulau Gadang dan tujuh desa lainnya di Kecamatan XIII Koto Kampar dan dua desa yang masuk wilayah Sumbar (Desa Tanjung Pauh dan Desa Tanjung Belit).

Namun dengan semangat yang kuat, masyarakat bersama TNI mendirikan dan meresmikannya kembali, Senin (16/2/15). Baca: Monumen Bersejarah Kusuma Bantalo Bangkit Kembali.  Untuk itu, Pucuk Adat Kenegerian Pulau Gadang H Sawir Datuk Tandiko tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada personil TNI dari Batalyon 132 BS dan kepada personil Dandim 0313 KPR yang berjuang bersama masyarakat mendirikan kembali Monumen Kusuma Bantalo untuk mengenang para pahlawan terdahulu.

“Selaku ninik mamak saya bangga sekali karena ini adalah ide dari kaum muda, ada tergugah dari anak-anak muda membangkitkan kenangan akan sejarah yang telah terendam,” ujar Sawir.

Dia berharap keberadaan monumen ini bisa menumbuhkan semangat generasi muda mengenang sejarah perjuangan masa lampau dan semangat untuk membangun kampung halaman.***(ali)