Walikota Pekanbaru Firdaus ST MT memeriksa data DBH Migas untuk Pekanbaru yang disodorkan Kepala BPKAD H Bustami saat Munas III Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas, Kamis (26/2) di Bidakara Jakarta.(foto Humas)
Walikota Pekanbaru Firdaus ST MT memeriksa data DBH Migas untuk Pekanbaru yang disodorkan Kepala BPKAD H Bustami saat Munas III Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas, Kamis (26/2) di Bidakara Jakarta.(foto Humas)

Jakarta(SegmenNews.com)- Walikota Pekanbaru Firdaus ST MT  berharap agar daerah penghasil minyak dan gas harus memiliki wawasan lingkungan untuk masa sekarang dan masa depan, karena  menuru Wako apabila aktifitas dan eksploitasi hasil bumi tidak memperhatikan lingkungan yang kerlanjutan akibtanya nanti setelah masa produktifias berakhir,  akan menyisakan kerusakan dan kemiskinan bagi masyarakat di daerah tersebut.

Hal itu diungkapkan Walikota saat mengikuti  Musyawarah Nasional III Forum Konsultasi Daerah  Penghasil Migas, yang digelar, Kamis (26/2) di Bidakara Jakarta yang dibuka oleh  Mentri Koordinator Bidang Perekonomian  Sofyan Jalil, serta dihadiri oleh Dirjend Banda Mendagri, para Gubernur, Bupati dan Walikota dari daerah penghasil Minyak dan Gas Bumi.

Walikota Pekanbaru Firdaus ST MT yang didampingi Kepala BPKAD H Bustami HY seusai pembukaan Munas, ketika ditemui insan perss, menyampaikan harapannya  agar aktifitas pengelolaan minyak  dan gas bumi harus berwawasan lingkungan, agara ekosisitim di wilayah operasi minyak dan gas bumi  tidak menjadi rusak terutama setelah aktifias pengelolaan itu sudah tidak produktif lagi.

“Kita tidak hanya berbicara tentang lingkungan semata, efek dari aktifitas pengelolaan penambangan dan eksploitasi minyak dan dan gas bumi atau hasl tambang lainnya, apa bila tidak dikelola dengan baik  maka setelah hasil tambang atau Migas sudah tidak ada lagi, maka yang ada hanya daerah yang gersang, tidak terurus, serta perkekonomian maasyarakat setempat yang menjadi sulit. Maka sangat penting membuat keijakan tentang masa depan daerah dan masyarakat penghasil migas tersebut, ’’ ungkap Firdaus.

Ungkapan Walikota tersebut juga sejalan dengan  ungkapan Menko Bidang Perekonomian  Sofyan Jalis, dimana banyak fakta dan peristiwa membuktikan bahwa daerah yang dulunya penghasil sumber daya alam  yang sangat besar, setelah hasil tambangnya habis, lingkungannya menjadi rusak, dan perekonomian masyarakatnya juga memburuk.

“Kita ingat Aceh Bontang, dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia, ketika produksi hasil sumber daya alamnya masih produktif, daerahnya menjadi  sangat maju, dan masyarakatnya sejahtera. Tetapi setelah hasil sumber daa alamnya habis, daerah tersebut bagaikan tertinggal, dan perekonomiannya  masyarakatnya menjadi memprihatinkan,’’ ujar Sofyan Jalil.

Sofyan Jalil menyebutkan bahwa sejarah membuat sistim Negara ini salah  dalam memenej  perekonomian dan pengelolaan sumber daya alam. Harusnya kita memenej pengelolaan sumberdaya alam itu untuk masa sekarang dan untuk masa datang.***(advertorial/hms/chir)