Pekanbaru(SegmenNews.com)- Orang tua memiliki anak autis harus bekerja ekstra untuk mendidik dan membina supaya bisa menjadi orang berguna bagi nusa dan bangsa. Anak autis bukan penyakit gila, tapi mereka normal seperti orang lain, untuk itu jangan disisihkan.

Memang selama ini, untuk mendidik anak autis di tempat sekolah inklusif atau Pendidikan Layanan Autis (PLA) pada umumnya orang mampu. Berdasarkan pendidikan itu, anak bisa bergaul, bersosialisasi dan diterima oleh masyarakat.

Sementara orang miskin, kebanyakkan memasung anak disebuah gudang atau rumah tinggal. Karena takut mengganggu, merusak dan melukai orang lain. Sementara orang tua tidak tau cara mendidik anak autis seperti guru autis disekolah.

“Anak autis itu normal. Namun mereka hanya terfokus kepada satu bidang saja. Untuk itu, orang tua maupun guru harus bisa mengarahkan anak kebidang yang dikuasainya. Sebab anak autis kebanyakkan memiliki kepintaran melebihi disatu bidang yang disukai,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Riau, Dwi Agus Sumarno, Senin (30/3).

Dwi berniat, akan menjadikan pendidikan yang berkeadilan. Sehingga setiap anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga mereka bisa membangun daerah sesuai dengan keahlian dimilikinya. Untuk anak autis, Disdikbud Riau telah membuat Pusat Layanan Autis (PLA) di Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru. Sekolah ini merupakan terbaik, termegah dan memiliki kelengkapan fasilitas belajar di Pulau Sumatera.

Sekolah ini akan mengajari anak umur 2-6 tahun. Sekolah ini juga diperuntukkan gratis untuk anak penyandang autis di Provinsi Riau. PLA akan dibuka mulai 2 Mei 2015 mendatang.

“Kita sudah siapkan anggaran Rp1,2 miliar untuk biaya operasional PLA, termasuk gaji guru, makan dan penunjang anak lainnya. Dengan adanya PLA ini, tidak ada lagi anak yang tidak mendapatkan pendidikan di Riau,” tegas Dwi dalam Pers Konpres bersama wartawan dalam persiapan, Hari Autis Sedunia tanggal 2 April nanti di Aula Disdik Riau.

Menurut Kabid Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Disdikbud Riau, Sri Petri Haryanti, jika orang tua sudah melihat ada kelainan atau tanda tanda autis terhadap anak umur dua tahun, segera dididik di PLA. Jangan dibiarkan dan harus menunggu anak sampai umur 9 tahun baru dimasukkan ke sekolah dasar.

Sebab anak kecil bisa cepat sembuh daripada mereka sudah baligh nanti. Diakui, PLA baru ada 1 unit di Provinsi Riau. Namun lembagaklinik autis ada 13 unit, sekolah khusus autis 2 unit dan rumah sakit autis 7 unit. Anak penyandang autis di Riau yang terdaftar di pemerintah sekitar 700 orang. Sedangkan tenaga pendidiknya baru 23 orang.

Tenaga pendidik layanan khusus autis membutuhkan tenaga ahli. Untuk itu, Disdikbud Riau telah bekerjasama dengan Fakultas Psikolog UIR dan UIN, Fakultas Okupasi Tabrani Rab serta Psikoterapi Bicara Ibnu Sina, untuk mencari mahasiswa berprestasi dengan diberikan beasiswa supaya bisa menjadi tenaga pendidik autis nanti.

Kemudian, Disdikbud juga mencari putra-putri Riau yang ingin mengabdi menjadi tenaga pendidik Autis, supaya bisa mendaftarkan diri ke Disdikbud. Calon tenaga pendidik ini akan dikuliahkan S1, minimal pendidikan keahlian satu tahun.***(alind)