Presiden Joko Widodo ketika membuka pertemuan tingkat tinggi Konferensi Asia Afrika (KAA). (22/04/2015) (ANTARA)
Presiden Joko Widodo ketika membuka pertemuan tingkat tinggi Konferensi Asia Afrika (KAA). (22/04/2015) (ANTARA)

SegmenNews.com- Pelaksanaan eksekusi mati terhadap dua gembong narkoba asal Australia, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan turut berpengaruh terhadap karya seni. Galeri Foto Nasional (NPG) di Canberra terpaksa memindahkan foto Presiden Joko Widodo sehingga tidak bisa dinikmati publik.

Stasiun berita ABC News, Kamis, 30 April 2015 melansir, alasan pemindahan itu, karena khawatir akan dirusak oleh publik yang berkunjung ke galeri karena masih kesal mengenai isu eksekusi mati Chan dan Sukumaran. Menurut Direktur NPG, Angus Trumble, pemindahan foto mantan Gubernur DKI Jakarta itu hanya bersifat sementara.

Fotografer karya tersebut, Adam Ferguson, juga telah diinformasikan mengenai pemindahan itu.

“Perasaan saya pada Rabu pagi kemarin hanya melihat situasi yang ada, operasi kami dan penilaian terbaik kami mengenai risiko rusaknya karya seni tersebut. Sehingga kami merasa perlu untuk memindahkannya dari tampilan publik,” ungkap Trumble.

Dia menambahkan, juga tergerak dengan pernyataan dari Perdana Menteri Tony Abbott dan pemimpin kelompok oposisi, Bill Shorten.

“Saya juga mempertimbangkan posisi parlemen dan langkah penarikan Duta Besar kami,” imbuh Trumble.

Tidak Habis Pikir

Kendati telah diinformasikan sebelumnya, namun Ferguson tidak setuju foto hasil jepretannya dipindahkan begitu saja. Dia menyampaikan ketidaksetujuannya melalui akuan fan page Facebooknya.

Ferguson mengaku sedih mendengar berita eksekusi dua gembong narkoba asal Sydney itu. Tetapi, dia mengaku tidak habis pikir dengan keputusan NPG untuk memindahkan hasil karyanya.

“Hukuman mati merupakan sesuatu yang ketinggalan jaman dan doa saya menyertai keluarga. Saya diinformasikan pada Kamis kemarin karya saya untuk sementara waktu dipindahkan dari pameran, karena ada respons publik atas eksekusi Bali Nine serta menghormati korban dan keluarga mereka,” ujar Ferguson.

Dia mengatakan tidak habis pikir dengan kebijakan yang diambil oleh institusi seni terkemuka milik Negeri Kanguru. Menurut dia, seni merupakan dialog antara politik dengan sosial. Sesuai dengan jadwal, seharusnya, NPG tetap memamerkan karyanya hingga Juni mendatang.

“Galeri terkemuka seharusnya mengambil tindakan untuk mempromosikan diskusi dan bertanya kepada audiens mereka. Saya pikir, lebih baik baik publik menyaksikan foto yang saya buat saat ini, mengingat situasi yang terjadi,” kata Ferguson beralasan.

Foto yang dia jepret diambil pada September lalu. Foto itu pula yang digunakan oleh Majalah Time sebagai sampul depan mereka.

Sementara, Trumble mengakui bahwa Ferguson tidak setuju dengan langkah yang dia ambil.

“Saya telah menghubungi dia untuk memberi tahu mengenai keputusan saya dan alasan saya memindahkan fotonya. Saya bahagia telah melakukannya, kami tetap berkomunikasi dan saya menghormati opininya,” ujar Trumble.***

Red: hasran
Sumber: viva.co.id