Diskusi "Gunjang Ganjing Kampar" Berlangsung Alot
Diskusi “Gunjang Ganjing Kampar” Berlangsung Alot

Bangkinang(SegmenNews.com)– Wakil Bupati Kampar Ibrahim Ali SH dalam Diskusi bertema “Gunjang ganjing Kampar hari ini karena siapa dan salah siapa?” yang ditaja oleh Himpunan Mahasiswa Ocu Kampar-Pekanbaru (HMOK-PKU) di Bangkinang, Senin (29/6/15) malam.

Peserta yang di ikuti 40 orang ini berjalan alot dan penuh canda tawa, dalam acara tersebut terlihat hadiri kapolsek Bangkinang kota Iptu Ulul Azmi bersama tokoh mahasiswa kampar (HMOK-PKU) dikemas menarik karena dimulai dari pernyataan Bang Beni yang mengatakan bahwa saat ini Kampar memiliki tiga zero.

Kampar saat ini berada dalam kondisi zero kepemimpinan, hukum dan moral papar, Beni dalam dialognya bersama wakil bupati kampar Ibrahim Ali SH bersama puluhan Organisasi Mahasiswa (HMOK-PKU) pekan baru di pondok Tomyam di Bangkinang.

Kampar mempunyai sumber daya alam yang luar biasa dengan APBD yang melimpah ruas namun kenyataan dilapangan minim. 45 orang anggota DPRD Kampar hanya diam dan bisu, padahal dalam Hak angket yaitu hak DPRD kabupaten/kota untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Mengetahui kondisi Kampar dan mengamati perkembangannya setiap waktu, namun terjebak dalam fungsi kontroling sebatas “rekomendasi” seperti yang disampaikan anggota DPRD yang bernama Repol.

Ditambahkan Firman Wahyudi dari Hanura, penegakan supremasi hukum yang masih lemah menuntut Kampar untuk dievaluasi. “Visi dan Misi Pemkab Kampar adalah milik bersama, jadi mari kita selesaikan,” tekannya.

Wakil Bupati menyadari bahwa solusi terbaik untuk Kampar adalah dialog. Beliau mengajak generasi muda untuk membangun Kampar lebih baik lagi. “Banyak ide-ide bijaksana yang bisa diterapkan di Kampar. Contoh di pacujalur di Kuansing, rally bike internasional di Siak. Dan Kampar bisa lebih dari itu,” harapannya.

Berbeda dengan Anton, aktifis senior HMOK-PKU, yang menyoroti media atas sharing publikasi terkait program-program Pemkab. Dikatakannya, pemberitaan tersebut adalah keberhasilan semua. Pernyataan ini ditanggapi wartawan lokal Anto Badai sebagai situasi yang tak bisa dipungkiri. “Wartawan di Kampar adalah pekerja di industri media masing-masing. Namun, independensi wartawan tetap ada dan akan selalu ada,” tegasnya.

Diskusi semakin panas, berbagai pemikiran, ide dan pendapat muncul dari masing-masing peserta diskusi. Namun ada yang menarik, yang membakar semangat para peserta. “Rakyat adalah hakim yang tidak terbantahkan”. Quote ini selanjutnya menjadi amunisi HMOK-PKU untuk meluruskan program-program Pemkab yang jauh dari tujuan pembangunan daerah,” sampai Anto lagi.***(ali)