AHMAD 6Apabila Idul Fitri sudah tiba, umat Islam diharuskan menyikapinya secara wajar dan sederhana sekalipun itu adalah hari kemenangan. Hari kemenangan, bukan berarti hari berhambur-hamburan, harus menghabiskan uang banyak, menyiapkan makanan yang banyak dan merayakannya secara berlebihan.

Hari kemenangan justru harus dibuktikan dengan penambahan iman kepada Allah SWT, sebagaimana hadis Nabi : Tidaklah hari raya itu bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi hari raya itu adalah bagi orang yang imannya bertambah dan atau meningkat.

Untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri, setidaknya dengan melakukan 6 hal :

Pertama, bermaaf-maafan antara satu sama lain dari segala noda dan dosa yang diperbuat selama ini, baik yang disengaja maupun tidak. Sehingga segala noda dan dosa yang berkaitan dengan sesama manusia dan barang kali belum terhapus dengan puasa, akan terhapus semuanya sehingga nilai kefitrian yang kita raih akan mencapai derajat kefitrian tertinggi.

Kedua, menjalin persaudaraan diantara sesama, barangkali selama ini ada hal-hal yang dilakukan yang menyebabkan putusnya hubungan silaturahim. Sehingga dengan demikian, tali yang kusut dan bahkan putus selama ini, akan terajut kembali secara apik dan mesra.

Ketiga, saling membantu dan menolong di antara sesama kaum muslim yang diwujudkan dalam bentuk pemberian zakat fitrah dan bahkan zakat maal yang telah ditunaikan sebelumnya. Sehingga dengan demikian tidak ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang menangis sedih pada masa idul fitri ini, sebagai akibat dari tidak dipunyainya makanan dan kebutuhan pokok lainnya pada hari raya itu.

Keempat, menyiapkan sedekah secara wajar, dengan memberikan infaq atau sadaqah berupa uang dan atau makanan kepada setiap yang bersilaturrahim kerumah kita, sehingga menambah pundi-pundi Tabungan amal shaleh kampung akhirat (Taska) kita sebagai bekal dihari kemudian. Harta, istri dan anak, semuanya akan ditinggalkan di dunia ini, Hanya amal shalehlah yang akan kita bawa ke liang kubur, untuk selanjutnya memasuki alam akhirat.

Kelima, menghindari perbuatan-perbuatan yang akan merusak derajat muttaqin dan mengotori kefitrian, yang telah kita raih selama bulan Ramadhan dengan melaksanakan ibadah puasa, yang menyebabkan diri tercoreng oleh noda dan dosa. Bila hal ini terjadi, maka tidak menutup kemungkinan kita akan terkena imbas sesuai kata pepatah, “Gara-gara Nila setitik, rusuk susu sebelanga“.

Keenam, mempertahankan derajat muttaqien, baik selama bulan Ramadhan maupun pasca ramadhan, yang dibuktikan dengan mempertahankan amaliah ramadhan, seperti rajin baca Al-Qur’an, rajin ke masjid, rajin sholat malam, mampu mengendalikan diri, peduli kepada fakir miskin, membayar zakat, banyak berinfaq/shodaqah, dan lain sebagainya.***

Oleh: Kepala Kantor Kemeterian Agama Kabupaten Rokan Hulu, Drs H Ahmad Supardi Hasibuan,MA