Aprialsah Lubis Sosialisasi Kepustakaan Islam di Kemenag Rohul

Aprialsah Lubis Sosialisasi Kepustakaan Islam di Kemenag Rohul

Rohul(SegmenNews.com)-Kepala Bidang Urais Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kanwil Kemenag Riau, Aprialsah Lubis M.Pd melakukan sosialisasi Kepustakaan Islam, Senin (11/11/19) bertempat di Musholla Kemenag Rohul.

Dikes mpatan itu, Aprialsah Lubis menjelaskan tentang pengelolaan kepustakaan masjid dan pengelolaan, sesuai aturan dari edaran Dirjen no 828 tahun 2014, disebutkan bahwa manajemen masjid itu ada 3 pilar yang masing-masing pilar ini saling berhubungan satu dan yang lainnya yang disebut dengan dipologi masjid atau manajemen masjid berbasis dipologi.

Adapun pembagian masjid berbeda-beda, yakni 1- dipologi masjid jamik masjid yang berada dikelurahan atau kecamatan disebut dengan masjid jamik, 2- dipologi masjid besar itu adalah kumpulan dari masjid-masjid jamik tapi yang dikumpulkan dari kecamatan itu yang dianggap besar atau masjid raya, 3- masjid agung satu masjid yang di diunggulkan serta di SK kandepak bupati jadi dikabupaten tidak ada dua masjid yang agung cuma satu yang boleh di SK, yang ke 4- masjid raya  5- masjid negara, dan kemudian 6- masjid nasional.

“Diperlukan manajemen masjid yang disebut Idarohnya atau pengelolaan struktur organisasi, idarohnya dibuatkan ada pengolahannya pengurusnya seperti ketua, sekretaris dan yang lainnya, dan dilanjutkan dengan Imaroh untuk melaksanakan yang mengisi kegiatan masjid itu,” kata Aprialsah lubis.

Ia juga menambahkan sebaiknya masjid-masjid punya kepustakaan agar pengunjung yang datang untuk sholat bisa betah duduk berlama-lama dimasjid dengan menyediakan buku yang disusun dirak dan bagus juga masjid-masjid yang ada menyediakan internet juga untuk menambah ilmu pengetahuan serta banyak dikunjungi tapi saat waktu sholat matikan internetnya.

KTU Kemenag Rohul, Zulkifli Syarif mengatakan sosialisasi diikuti utusan dari 25 takmir masjid yang ada dikabupaten rokan hulu dan untuk musholla belum dilakukan pencerahan sebab pengunjung nya lebih sedikit jadi saat ini lebih diutamakan masjid terdahulu.

“Dari pantauan kami sudah kami lihat di ibukota kecamatan dimasjid yang besar sudah ada perpustakaannya, hal ini sudah ada rasa kesadaran tinggi  tentang pentingnya nengetahui dalam mendalami Islam. Sedangkan yang masjid di desa atau perkampungan, inilah tugas kita untuk memberikan semangat kepada mereka untuk menyiapkan perpustakaan sekalipun itu dalam bentuk sederhana,” kata Zulkifli Syarif.***(fit)